Baru 12%, Deteksi Dini Kanker di Indonesia

0
21
Ilustrasi. (jatim.tribunnews.com)

Jakarta, MENTARI.ONLINE– Kesadaran masyarakat Indonesia terhadap kanker masih rendah. Baru 12 persen penduduk Indonesia yang melakukan deteksi dini kanker. Hal tersebut disampaikan Direktur Jenderal (Dirjen) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementrian Kesehatan, Mohamad Subuh.

Diterangkan Subuh, tahun 2017, Kemenkes sudah menggelar tes Inspeksi Visual dengan Asam Asetat guna mendeteksi kanker serviks (IVA) terhadap tiga juta wanita Indonesia. Diakui Subuh, jumlah tersebut masih jauh dari angka ideal yang diharapkan.

“Target kita mestinya 37 juta perempuan,” kata Mohamad Subuh.

Menurut Subuh, faktor risiko penyakit kanker tidak hanya dari sisi klinis namun juga dari faktor nonklinis seperti pengetahuan, lingkungan, kepedulian masyarakat terhadap kanker itu sendiri. Masyarakat, kata Subuh, harus diedukasi semua hal mengenai kanker.

Apabila pengetahuan soal kanker pada masyarakat sudah memadai, maka diharapkan perilaku masyarakat berubah jadi lebih sehat dengan menjaga pola makan, olahraga teratur, serta menjauhi perilaku pemicu kanker.

Untuk itu, Kemenkes melakukan sosialisasi dan edukasi mengenai kanker pada penyuluh dari berbagai provinsi yang akan mengedukasi masyarakat mengenai pengetahuan tentang kanker.

Ketua Komite Penanggulangan Kanker Nasional Profesor Soehartati Gondhowihardjo mengungkapkan hanya 3,5 % wanita di Indonesia yang melakukan test IVA serta 7% yang melakukan pap smear sebagai usaha mendeteksi dini kanker.

“Pasien kanker datang ke rumah sakit yang sudah stadium lanjut mencapai 70%. Yang terjadi di masyarakat , tanda awal kanker itu diacuhkan, lalu menjadi luka, susah sembuh baru dibawa ke dokter,” kata Soehartati.(joe/Mediaindonesia)