Cinta Baginda Rasul*

0
87
Nurkhamid Alfi. (Dok.Pribadi)

“Assalamu’alaika ya Rasulallah”, ucapan salam itu biasa dilakukan para jamaah haji yang sedang di makam Rasulallah dengan suara bergetar. Nafas tersengal, dada terasa sesak yang pada akhirnya meledak menjadi tangis. Tangis bahagia sekaligus kerinduan berjumpa dengan ‘kekasih” walaupun berada di emperan makam. Mengapa hampir setiap jamaah merasakam kondisi psikologis semacam ini?


Ternyata, bacaan sholawat yang selalu diucapkan setiap waktu, telah menjadi tali pengikat antara Nabi dengan umatnya. Semakin banyak sholawat yang dikirim ke haribaan Nabi, semakin kuat pula tali ikatan bathin dengan nabi. Sholawat adalah bentuk dialogis dan cinta kita pada Nabi, sebagai balasan atas cinta Nabi kepada kita.

“Sungguh telah datang kepada kalian seorang rasul dari kaum kalian sendiri,berat terasa olehnya penderitaan yang kalian alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagi kalian, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang mukmin,” (QS 9:128).

Bahkan, ketika sampai umur Nabi berakhir di detik-detik wafatnya, beliau masih menyebut-nyebut umati…umati… umati… sampai membuat shahabat utama yang berada di sampingnya, Abu Bakar dan lainnya berdiri terpaku, berurai air mata. Bilal tidak sanggup lagi mengumandangkan adzan dhuhur ketika jasad suci masih berada di pembaringan.Karena begitu cintanya pada umat, maka beliau juga dicintai umatnya melebihi cinta terhadap diri mereka sendiri.

Mendapat sholawat dari Allah SWT dan para malaikat-Nya, tidak membebaskan ujian dan penderitaan hidupnya. Nabi justru diuji yang lebih dari umatnya sebagai bentuk pendidikan mental langsung dari Allah SWT.

Ayahnya, Abdullah wafat saat beliau masih berumur 6 bulan di kandungan. Umur 6 tahun ibunya, Siti Aminah wafat. Setelah itu, diasuh oleh kakeknya, Abdul Muthallib. Baru 2 tahun, kakek yang mengasihinya itu wafat. Umur 8 tahun ikut pamannya Abu Talib. Dari sini, dengan asuhan pamannya ini, memberi corak kehidupan Muhammad sehari-hari. Beliau menjalani hidup yang sangat sederhana. Di samping belajar, juga menggembala kambing dan berdagang. Sampai ketika dewasa, umur 25 tahun menikah dengan seorang janda 40 tahun, Siti Khadijah.

Ada banyak cerita miring yang sengaja dihembuskan oleh para musuh berkenaan dengan banyaknya istri-istri Nabi dengan (maaf) syahwat. Tapi ini terbantahkan dengan realitas dan alasan. Setelah Khadijah wafat, masih periode Mekah, Nabi tidak mencari pengganti yang cantik, tetapi yang dinikahi justru Bunda Saudah, yang (maaf) wanita janda tambun dan beranak.

Padahal jika Nabi mau, para pembesar Quraisy telah menawarkan wanita-wanita cantik, harga dan tahta. Apakah ini tidak menjadi bukti yang cukup jika Nabi dalam menikahi seseorang tidak berdasarkan nafsu? Dari 11 istri nabi, hanya 1 yang perawan, yaitu Bunda Aisyah binti Abu Bakar. Inipun dalam rangka mengangkat harkat shahabatnya yang paling mulia.

Jadi semua pernikahan Nabi hanya didasarkan atas jalan dakwah. Jika penilaian musuh itu benar, Nabi akan sangat mudah meminang wanita-wanita cantik dan muda. Karena disamping berwibawa, Nabi sangat tampan. Keadaan fisik Nabi seperti gambaran Ummu Ma’bad pada buku “Atlas Perjalanan Hidup Nabi”.

Rasulallah adalah sosok dengan tubuh sangat bersih, wajah berseri-seri, perangainya begitu baik, tidak buncit perutnya, dan tidak ternodai oleh kekurangan fisik, rambutnya ikal, tidak keriting dan tidak lurus, tidak terlalu halus dan tidak terlalu kasar. Jika Nabi berjalan langkahnya terlihat kokoh dan seperti berjalan turun. Jika menoleh menyertakan seluruh tubuhnya secara bersamaan.

Warna hitam dan putih mata Nabi terlihat penuh dan berpadu sempurna. Bulu mata Nabi panjang dan lentik, alis mata bak semut beriringan, panjang melengkung bertemu pangkal dan sangat hitam.Suaranya serak dan berwibawa. Lehernya jenjang, Jika diam,beliau semakin berwibawa, jika berbicara semakin anggun.

Dilihat dari jauh,beliau adalah sosok yang sangat tampan dan menarik. Saat dilihat dari dekat, kesempurnaan beliau melebihi penilaian itu. Ucapan enak didengar, tertata, berjeda dan menyimpulkan. Perawakannya idela dan tingginya sedang. Diantara kedua pundaknya terdapat stempel kenabian.

“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur.”(QS 68:4)

 

* Penulis: Nurkhamid Alfi, (Pecinta Nabi)

__________________________________