Dua Jam Bertemu Pendeta Ibrahim Moses (Saifudin Ibrahim) di Rutan Polda Metro Jaya

1
10831
Video Pendeta Abraham Moses dulu bernana Saifudin Ibrahim saat berada di mobil yang viral di medsos karena menghina Islam. (Screenshot)

Jakarta, MENTARI.ONLINE – Tadinya saya sempat berputar-putar di Mabes Polr, mencari informasi dimana Saifudin Ibrahim di tahan. Ada kabar ia ditahan di rutan Mabes Polri di Tanah Abang. Tapi ada juga informasi yang mengatakan tidak ditahan. Untung saya bisa kontak mas Pedri (Pedri Kasman), Sekretaris PP Pemuda Muhammadiyah dan sekaligus pelapor Saifuddin ke polisi. Sebagai pihak yang ikut diperiksa sebagai pelapor -besok siang mas Pedri di periksa di Polda-info tentang kepastian tempat di mana Saifuddin ditahan semakin jelas. Saifuddin ibrahim, alias pendeta Abraham Moses ditahan untuk empat bulan ke depan di rutan Reskrim Narkoba Polda Metro Jaya.

Setelah selesai sholat duhur di masjid Polda Metro Jaya yang sejuk itu, saya berjalan kaki kurang lebih 200 meter menuju tempat tahanan Saifuddin Ibrahim. Sempat ditolak karena saya datang tidak saat jam besuk. Jam besuk sebenarnya hari Selasa dan Kamis, dari 10.00 sampai dengan jam 14.30

Tapi karena berbagai alasan,biasa, karena terbiasa jadi tukang gedor, meminjam KH. Hassan Alaidrus Ketua Pengurus Wilayah Muhammadiyah Banten, saya diijinkan masuk walau tidak boleh lama-lama, hanya diijinkan 15 menit saja.

Di lantai dua rutan, tempat Saifuddin ditahan, saya harus menunggu agak lama sebelum bertemu Saifudin karena konon ia sedang menyelesaikan tadarus/menghafal Al-Qur’an Juz amma. Itu saya ketahui setelah berbincang dengannya. Obrolan kita mengalir saja, seperti layaknya kawan lama setelah 30 tahun  tidak pernah ketemu. Sempat peluk-pelukan lama, lebih kurang 10 menit sambil sesekali mengusap air mata karena ingat kenangan di Pondok Shabran. Tidak hanya dia, tapi juga saya mengusap mata yang basah karena baru sekali itu bertemu dan ketemu dalam keadaan keimanan yang berbeda.

Perbincangan pun mengalir. Saya sanpaikan salam keluarga besar dari Bima, teman-teman di sana seperti Ruslin Iliyas, Ikhwan Syamsudin, Ahmad NTB, Mardiyah, Ardi dll. Dia tertegun, tapi kemudian tegar. Saya juga titip salam teman-teman dari pondok Shabran. Singkatnya, isi obrolan kami kira-kira sbb:

Saya mencoba untuk menggunakan bahasa “hati” dengan memakai bahasa ibu–bahasa bima–merajuk agar kembali ke agama ibu, agama semula. Saifuddin mengucapkan terima kasih karena saya orang kedua yang datang menjenguk, menghibur dan menasihatinya sebagai keluarga.

Yang pertama ada seorang polisi –menurut Saifudin beliau berpangkat jenderal–berasal dari Bima dan dua orang ustad termasuk ustad Oni juga dari Bma. Menyampaikan nasehat seperti yang saya sampaikan. Bedanya, saya nasehati beliau di ruang agak terbuka. Sementara pak jenderal menasehati tidak boleh ada yang ikut mendengar. Semua orang  harus keluar dari ruangan.

Jawaban Saifuddin terserah petunjuk yang Di Atas. Artinya tergantung hidayah yang akan membimbing suara hatinya.

Yang saya tangkap dari diskusi yang dua jam itu, ada kemungkinan bisa balik, asal rutin dijenguk dan, ini yang terpenting, jangan konfontantif dan relatif menguasai masalah yang dibahas. Sebenarnya pengetahuan beliau sederhana. Ada beberapa pertanyaan saya yang tidak bisa dijawab dengan baik.

Tentang trinitas, misalnya. Juga saat disinggung mengenai khilafah dan dihadapkan dengan konsep NKRI. Untuk yang satu ini, kita gampang menjelaskannya. Dan saya rasa tidak perlu saya sampaikan di sini. Karena dia bisa menerimanya. Ketika saya balik bertanya tentang pandangan dunia Kristen — agama yang dia anut–terhadap banyak hal: mulai soal konsep hidup rumah tangga, bernegara, bermuamalah, dstnya, dia agak gelagapan.

Padahal hidup ini, saya bilang, perlu ada sumber rujukan yang shahih sebagai pedoman hidup, baik di dunia maupun untuk akhirat kelak. Dan itu sepenuhnya ada didalam Al–Quran dan Sunnah Rasul. Pada situasi seperti ini dia sulit menjawab.

Artinya di dalam ajaran Kristen, Kristen aliran manapun termasuk Katolik, memang tidak  dijumpai ajaran sekonfrehensif seperti islam. Kalaupun masih banyak rahasia Al Quran yag belum bisa dijabarkan agar lebih membumi, itu karena keterbatasan ilmu pengetahuan manusia saja.

Saya melanjutkan sedikit sedikit tentang nasihat penting yang saya sampaikan ke Saifudin Ibrahim yang terinspirasi oleh salah dari Mas Syamsul Hidayat (Dr.Syamsul Hidayat) di WA untuk Saifudin Ibrahim.

Mas Syamsul menyampaikan bahwa kalau tidak balik ke Islam janganlah menghina agama Islam. Masuk Kristen ya silakan tapi jangan menjelekan yang lain.

Saya memberi polesan dengan bahasa yang ia senangi dan dengan bahasa daerah dan ia bisa menerimanya. Yang ingin saya sampaikan adalah bahwa ternyata, menurut Saifudin, ia tidak mengenal semua perempuan-perempuan yang ikut didalam mobil seperti yang ada dalam video yang jadi viral itu.

Ceritanya, Menurut Saifuddin, bahwa peristiwa itu terjadi di Manado. Tiba-tiba ada jemaah yg mengenalnya dan mengaku Kristen. Maka ikutlah jemaah itu dalam mobil yang ia tumpangi itu. Dan itu mobil grab. Dia ceritalah sambil bercanda dan juga ada yang serius. Karena saya pikir mereka semua adalah jemaahnya. Ternyata dari mereka ada yang merekam dan memviralkannya.

Mendengar cerita itu, saya sok jadi penasihat. Jadi hati-hatilah bicara. Karena mulutmu harimaumu. Dia sempat tegang sebentar, tapi cepat kembali baik.

Saya menasihati dari hati ke hati. Bahwa Islam agama orang tua kita, saudara-saudara kita. Bahkan agama anak kandungnya sendiri: Fikri Khomeini (27 th), Saddam Hussein (23 th) dan si bungsu Muamar Khadafi (20 th). Ingatlah itu semua. Saya kutip juga pesan Al Gazali tentang keterbasan ilmu yang kita miliki. Kalau ada yang anda belum pahami, belajar saja terus menerus. Dan kalau masih  “mentok” yakinlah.

Karena tidak ada ajaran yang selengkap ajaran Islam. Carilah di agama mana pun, pasti tidak menjumpai agama dengan ajaran dan tuntunan selengkap ajaran islam.

Nanti disambung lagi. Saya masih di Masjid Polda menunggu maghrib dan berbuka. Dan harus jalan dulu, menyelesaikan urusan yang lain. Nanti disambung lagi. Intinya saya sudah menemui Saifudin Ibrahim. Dan Selasa depan saya ingin datang lagi. Silakan kalau ada yang mau bergabung.

11/12/17, 17.53

Umar Jahidin

_____________________