Fundamentalisme dan Salafisme: Perspektif Keberagamaan

0
30
Ilustrasi
Ilustrasi

FUNDAMENTALISME DAN SALAFISME:

Perspektif Keberagamaan*

Oleh Din Wahid**

 

  1. Pendahuluan

Akhir-akhir ini kita menyaksikan berbagai aksi teror di berbagai belahan dunia. Di Indonesia, aksi paling anyar adalah bom panci di Kampung Melayu, Jakarta Timur. Aksi ini merupakan aksi bom bunuh diri yang kesekian kalinya terjadi di Indonesia. Dua hari yang lalu, aksi teror juga terjadi di London Bridge, London. Semua kejadian aksi teror tersebut menyebabkan korban jiwa, dan melukai banyak orang.

Di setiap aksi teror, perhatian orang tertuju kelompok fundamentalis Islam, karena memang secara kebetulan yang melakukan aksi teror akhir-akhir ini adalah kelompok Islam garis keras. Padahal gerakan fundamentalis dan radikal bukan monopoli umat Islam, tetapi terjadi di setiap agama. Akan tetapi gerakan radikal di luar Islam sementara tertutup oleh gerakan Islam fundamentalis. Munculnya gerakan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) yang mengusung khilafah nyaris menyempurnakan stigma Islam sebagai agama yang mendukung kekerasan.

Makalah ini akan menyoroti fenomena gerakan fundamentalisme agama secara umum dan mendiskusikan gerakan Salafisme secara khusus. Gerakan Salafisme mendapat perhatikan khusus karena gerakan Islam berhasil menarik menarik aktivis Muhammadiyah menjadi Salafi.

 

  1. Fundamentalisme Agama

Sebelum mendiskusikan gerakan fundamentalisme, sebaiknya kita memahami terlebih dahulu istilah tersebut secara jernih. Selain kedua istilah tersebut, ada beberapa istilah sering digunakan oleh pengamat untuk menunjukkan kepada gerakan yang sama, yaitu militanisme, revivalisme dan ekstrimisme. Fazlur Rahman, misalnya menggunakan istilah revivalisme ketika menjelaskan gerakan Wahhabi, sementara jurnalis G.H. Jansen menggunakan istilah Islam Militan ketika menganalisis gerakan Ayatullah Khomeini.[1] Istilah fundamentalisme lebih banyak digunakan di dalam kajian tentang geakan Islam, seperti J.J.G. Jansen,[2] Marty E. Marty dan Scott Appleby,[3] Abdel Salam Sidahmed dan Anourshiravan Estesahmi,[4] Mansoor Moaddel Kamran Talattof.[5]

Istilah fundamentalisme sering disamakan dengan radikalisme, dan keduanya sering digunakan secara bergantian untuk menunjukkan gerakan yang sama. Padahal kedua kata tersebut mempunyai pengertian yang berbeda. Sesuai dengan asal kata, fundamentalis mengacu kepada seseorang atau kelompok yang ingin mengembalikan agama kepada pokok-pokok atau dasar-dasar (fundamentals) ajarannya. Di dalam Islam, sumber pokok ajaran Islam adalah al-Qur’an dan hadis, dan karenanya seseorang atau kelompok yang mengajak umat Islam untuk kembali kepada al-Qur’an dan hadis dapat dikategorikan sebagai fundamentalis dalam pengertian umum. Dalam bahasa Arab, mereka dikenal sebagai ushuliyyun (pengusung kepada dasar-dasar ajaran Islam), atau Ashliyyun (kelompok otentik), Islamiyyun (kaum Islamis) dan Salafiyyun (para pengikut generasi Salaf, yakni tiga generasi awal Muslim yang terdiri dari Sahabat, Tabi’un dan Tabi’ut Tabi’in).[6] Dalam pengertian luas ini, semua gerakan Islam yang menyeru umat Islam untuk kembali kepada al-Qur’an dan hadits sebagai sumber utama ajaran Islam bisa dikatakan kelompok fundamentalis. Akan tetapi, dalam karya-karya kesarjanaan, gerakan fundamentalisme mengalami penyempitan makna, yakni gerakan Islam yang menerapkan ajaran Islam secara menyeluruh di dalam semua aspek kehidupan agama, sosial, ekonomi dan politik. Salah satu tujuan gerakan fundamentalis adalah mendirikan negara Islam, karena negara sangat instrumental dalam penerapan ajaran Islam.

Dalam sejarah, gerakan fundamentalisme berasal dari Kristen, dan karenanya sebagian Muslim menolak istilah fundamentalisme dilabelkan kepada umat Islam. Mereka menggunakan istilah Arab, Ushuliyyun atau al-Ushululiyyah al-Islamiyyah (fundamentalis Islam). Secara historis, Azyumardi membagi gerakan fundamentalisme Islam menjadi dua, yakni fundamentalisme pra-modern dan kontemporer. Yang pertama lebih merupakan respon terhadap kondisi umat Islam itu sendiri, dan karenanya bersifat inward oriented. Wahhabisme merupakan prototype gerakan model ini. Sementara gerakan fundamentalisme kontemporer lebih merupakan respon dan reaksi terhadap penetrasi sistem sosial, politik dan ekonomi Barat baik secara langsung maupun tidak langsung.[7]

Menurut Marty dan Appleby, gerakan fundamentalis mempunyai ciri perlawanan atau perjuangan (fight). Mereka melawan kembali (fight back) kelompok yang mengancam mereka; mereka berjuang untuk (fight for) menegakkan cita-cita mereka; mereka berjuang dengan (fight with) nilai-nilai yang mereka anut; mereka berjuang melawan (fight against) musuh-musuh mereka; dan terakhir mereka berjuang atas nama (fight under) Tuhan atau faham-faham tertentu.[8] Selanjutnya, Almond, Sivan dan Appleby menjelaskan beberapa sifat/watak ideologis gerakan fundamentalisme. Pertama, Gerakan fundamentalisme bersifat reaktif dan defensif terhadap proses modernisisasi dan sekularisasi. Medernisasi sering diterapkan oleh negara sebagai dalih pembangunan. Dalam penerapannya, modernisasi sering mendorong proses sekularisisasi dan sebagai akibatkanya peran agama termarginalkan. Tidak jarang dalam sebuah masyarakat atau negara, jumlah umat beragama yang committed melaksanakan ajarannya berkurang. Kedua, gerakan fundamentalisme melakukan seleksi. Ia menyeleksi tradisi dan memformat kembali tradisi tersebut sehingga menjadikan gerakan fundamentalisme berbeda dari kecenderungan umum. Ia juga menyeleksi elemen modernitas dan mengunakannya untuk kepentingan dakwahnya seperti radio, televisi dan lain-lain. Terakhir, ia menyeleksi akibat-akibat modernisasi dan menjadikannya sebagai target utama untuk diserang. Ketiga, gerakan fundamentalisme mempunyai pandangan yang dualistik. Dunia, bagi kaum fundamentalis hanya terbagi dua: benar-salah, terang-gelap. Mereka berada dalam kebenaran dan terang benderang, sementara yang lain berada dalam kegelapan, salah dan penuh dosa. Keempat, gerakan fundamentalis menganut absolutisme. Kitab suci seperti al-Qur’an adalah asli, sakral, tidak ada penyimpangan sedikitpun, dan akurat. Keyakinan ini bersifat absolut, dan karenanya mereka menolak hermentika karena metode tersebut tidak tepat diterapkan pada teks-teks keagamaan yang sakral. Al-Qur’an bagi mereka harus ditafsirkan secara literal. Dan terakhir, gerakan fundamentalisme mempunyai kepercayaan kepada Messianisme atau Millenialisme (sang juru penyelamat). Menurut mereka, kehidupan akan berakhir dengan kemenangan yang benar dan baik atas yang jahat dan buruk. Di akhir jaman akan muncul seorang juru penyelemat yang akan membawa kebaikan dan mengakhiri kejahatan.[9]

 

  1. Salafisme

Sesuai dengan asal katanya, Salafisme adalah seorang yang mengikuti manhaj (jalan) Salaf, yakni tiga generasi Muslim awal yang terdiri dari Sahabat, Tabi’un dan Tabi’ut Tabi’in. Berdasarkan sebuah hadith yang sangat terkenal “Sebaik-baik generasi adalah generasi abad abadku, kemudian generasi sesudahku, dan kemudian generasi sesudahnya”, generasi Salaf adalah generasi terbaik umat Islam, karena mereka hidup paling dekat dengan masa Nabi, dan oleh karena itu, mereka dianggap sebagai generasi yang paling memahami ajaran Islam.  Sementara itu, kata “manhaj” mengandung arti “metode” dan “jalan yang jelas dan terang”[10] sebagaimana ditegaskan dalam al-Qur’an, 5:48, yang berbunyi: “Bagi setiap ummat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang,” yakni jalan atau syari’at. Dengan demikian, manhaj Salafi adalah “jalan hidup yang lurus dan terang dalam beragama menurut pemahaman para sahabat”.[11]

Dalam sejarah Islam, sesungguhnya gerakan Salafiyah merupakan gerakan pembaharuan Islam di Mesir pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 yang dimotori oleh Jamaluddin al-Afghani, Muhammad ‘Abduh dan Rasyid Ridla. Gerakan ini mengajak umat Islam untuk memurnikan ajaran Islam (purifikasi) dan sekaligus melakukan ijtihad (modernisasi). Gerakan ini mengusung jargon al-ruju’ ila al-Qur’an wa al-hadits (kembali kepada al-Qur’an dan hadits). Di dalam konteks ini, maka Muhammadiyah yang banyak terinspirasi oleh gerakan Muhammad ‘Abduh disebut sebagai gerakan Salafiyah, yakni gerakan tajdid dengan dua dimensinya: purifikasi dan modernisasi. Namun demikian, istilah Salafisme sekarang mengalami penyempitan makna karena istilah ini diklaim oleh kelompok umat Islam yang mengaklaim diri sebagai para pengikut Salaf, dan menamakan dirinya sebagai Salafi. Gerakan ini dimotori oleh alumni Timur Tengah, terutama Saudi Arabia dan Yaman, dan memulai dakwah mereka pada pertengahan tahun 1980-an. Istilah Salafi dalam makalah ini merujuk kepada kelompok yang terakhir ini.

Menurut kelompok Salafi, mengikuti al-Salaf al-salih adalah kewajiban yang terkandung secara implisit dalam sebuah hadits yang sangat terkenal:  “Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kalian dari kalangan Ahlul Kitab telah terpecah-pecah menjadi 72 golongan. Sesungguhnya umat Islam akan terpecah menjadi 73 golongan: 72 golongan tempatnya di dalam neraka, dan hanya 1 golongan di dalam surga, yakni al-Jama’ah.” Hadits lain mengatakan: “Semua golongan tersebut tempatnya di dalam neraka, kecuali satu yakni yang aku dan para sahabatku berjalan di atasnya.”[12] Mereka disebut jama’ah karena mereka disatukan oleh seorang pemimpin di atas kebenaran  dan tidak ingin keluar dari kelompok tersebut.[13]

Orang-orang Salafi telah membangun argumen baik dari al-Qur’an maupun hadits tentang kewajiban mengikuti manhaj Salaf. Salah satu ayat yang sering dikutip adalah adalah 9:100 yang berbunyi: “Dan orang-orang terdahulu yang pertama-tama masuk Islam diantara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridla kepada mereka, dan sebaliknya merekapun ridla kepada Allah. Allah menyediakan kepada mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung.” Menurut kelompok Salafi, di dalam ungkapan “keridlaan Allah” terkandung arti dan kewajiban umat Islam untuk mengikuti pemahaman al-Salaf al-Salih.[14]

Selain ayat-ayat al-Qur’an, kelompok Salafi pun berargumen dengan hadits. Beberapa hadits yang sering dikutip oleh mereka adalah sebagai berikut: pertama, hadits yang mengatakan: “Wahai manusia! Sungguh aku telah meninggalkan untuk kalian, selama kalian berpegang teguh dengannya kalian tidak akan sesat selamanya, yaitu Kitabullah dan sunnah nabi-Nya.” Hadits lain menyebutkan bahwa: “Maka wajib atas kalian berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah al-khulafa al-rasyidun yang mendapat petunjuk. Pegang erat-erat dan gigitlah ia dengan gigi gerahammu! Dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang diada-adakan, karena sesungguhnya setiap perkara yang diada-adakan itu adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat.”

Atas dasar nash-nash di atas, kelompok Salafi berpendapat bahwa mengikuti manhaj salaf, yakni cara berpikir dan beragama orang-orang terdahulu yang salih adalah kewajiban bagi setiap Muslim. Bagi kelompok Salafi, manhaj salaf merupakan sumber hukum ketiga dalam Islam setelah al-Qur’an dan hadits. Berpegang teguh kepada al-Qur’an dan hadits saja belum cukup, demikian kelompok Salafi berargumen, karena seseorang masih tetap bisa menyimpang dari ajaran yang benar jika tidak mengikuti manhaj Salaf. Manhaj Salaf sebagai sumber kegita ini menjadi titik perbedaan pendapat di kalangan umat Islam, terutama antara kelompok Salafi dan kelompok pembaharu Islam di Indonesia seperti Muhammadiyah dan Persatuan Islam (Persis). Bagi kelompok pembaru Muslim, tidak ada dalil yang jelas dan tegas yang menyatakan bahwa umat Islam harus mengikuti manhaj Salafi.

 

  1. Ajaran Dasar Salafi

Kelompok Salafi telah mengembangkan beberapa ajaran dasar. Bernard Haykel merangkum karaktertistik kelompok Salafi menjadi enam. Pertama, kembali kepada Islam murni sebagaimana dijalankan oleh al-Salaf al-salih. Kedua, penekanan kepada tiga macam tawhid (rubūbiyya, ulūhiyya and al-asmā’ wa al-sifāt). Ketiga, perjuangan melawat syirik. Keempat, mengakui hanya al-Qur’an, hadits dan ijma’ sahabat sebagai sumber hukum Islam yang sah. Kelima, usaha untuk memberantas bid’ah dan khurafat dari umat Islam; dan keenam, mengunakan penafsiran literal dalam menafsirkan al-Qur’an dah hadits.[15] Seorang ustadz Salafi senior menambahkan salah satu ciri kelompok Salafi adalah menghormati Sahabat. Meskipun sahabat tidak ma’shum,  menurutnya, umat Islam dilarang mencela Sahabat.[16] Dalam kaitan ini, perbedaan pendapat di kalangan Sahabat harus diterima sebagai ijtihad mereka. Dan karenanya kelompok Salafi enggan mendiskusikan pertentangan antara sahabat, apalagi pertentangan itu menjadi sumber fitnah, seperti peristiwa perang Jamal.

Melihat karakteristik umum di atas, ada persamaan karakteristik antara kelompok Salafi dan kelompok dan kelompok Muslim modernis, terutama dalam aspek pemurnian aqidah Islam dan praktek keagamaan dari bid’ah dan khuragat. Untuk mengenal lebih jauh tentang pokok-pokok ajaran Salafi, berikut ini dibahas lebih detail.

  1. Tauhīd

Tauhīd berarti berarti mengesakan Tuhan. Menurut Salafi, konsep tauhid dibagi kedalam tiga: tauhīd rubūbiyya, tauhīd ulūhiyya, dan tawhīd al-asmā’ wa ṣifāt. Menurut mereka, percaya kepada keesaan Allah semata-mata belum cukup bagi umat Islam, karena sebenarnya orang-orang kafirpun percaya kepada keesaan Allah.

Tauhīd rubūbiya berarti percaya bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan, Penguasa, Pencipta dan Pengatur alam semesta, satu-satu Dzat yang memberikan rejeki bagi semua makhluk-Nya di alam semesta ini.[17] Semua manusia, termasuk orang-orang kafir mempunyai kepercayaan kepada tauhid jenis ini, oleh karena itu, umat Islam tidak cukup memiliki tauhid jenis ini.[18] Keyakinan ini didasarkan atas ayat Q.S. 23: 86-89:

“Katakanlah ‘Siapakah yang Empunya langit yang tujuh, dan Yang Empunya ‘arsh yang besar?’ Mereka akan menjawab ‘kepunyaan Allah’. Katakanlah ‘maka apakah kamu tidak bertaqwa? Katakanlah ‘Siapakah yang ditangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari adzab-Nya, kita kamu mengetahu?’  Mereka akan menjawab ‘kepunyaan Allah. Katakanlah: (kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu”.

Berdasarkan ayat ini dan ayat sejenisnya, kelompok Salafi berpendapat bahwa umat Islam harus meningkatkan pemahaman tauhidnya ketingkat yang lebih tinggi, yakni tawhīd ulūhiyya dan tawhīd al-asmā wa al-ṣifāt.

Tawhīd ulūhiyya berarti percaya bahwa Allah adalah satu-satunya Dzat yang layak disembah. Jenis tauhid inilah yang membedakan antara umat Islam dengan umat lainnnya: orang-orang kafir dan musyrik. Jenis tauhid ini merupakan manifestasi dari syahadat, lā ilāh illā Allāh. Berbeda dengan terjemahan umum yang mengartikan kredo tersebut di atas dengan “Tidak ada Tuhan selain Allah”, orang-orang Salafi menerjemahkan kredo di atas dengan “Tidak ada Tuhan yang patut disembah kecuali Allah.”[19] Pengertian ini sejalan dengan pernyataan al-Qur’an 1:5, “Hanya kepada-Mulah kami menyembah, dan hanya kepada-Mulah kami meminta pertolongan.”

Tawhīd al-asmā’ wa al-sifāt berarti percaya kepada kesatuan makna literal dari Nama-Nama Allah dan Sifat-Sifatnya. Kelompok Salafi berkeyakinan bahwa semua sifat Allah yang dijelaskan oleh Diri-Nya sendiri dalam al-Qur’an harus diterima apa adanya, dimaknai secara tekstual, tanpa ta’ṭīl, taḥrīf or ta’wīl, takyīf, tashbīh dan tafwīḍ.[20] Oleh karena itu, ayat-ayat al-Qur’an yang menggambarkan Sifat-Sifat Allah seperti Wajah, Tangan dan Kursi, harus dimaknai secara literal. Dalam hal ini, Muslim tidak dibolehkan untuk memakani Sifat-Sifat tersebut di atas secara majazi, dan menafsirkannya dengan “Kekuasaan”, misalnya, sebagaimana yang dilakukan oleh kelompok Muslim rasional. Orang-orang Salafi tidak membedakan antara Sifat dan Dzat Allah, dan karenanya menanyakan seperti apa Sifat Allah tersebut berarti sama dengan mempertanyakan Dzat atau Essensi Allah yang jelas-jelas dilarang dalam Islam. Sebagai contoh adalah ketika Allah menjelaskan bahwa Dia memiliki Tangan dan Wajah. Menurut Salafi, kewajiban umat Islam harus mempercayai bahwa Allah mempunyai Tangan dan Wajah, tanpa harus mempertanyakan sepeti apa Tangan dan Wajah Allah, apakah seperti tangan manusia yang setiap tangan mempunyai lima jari.

Di samping ketiga dimensi tauhid di atas, sebagian kelompok Salafi menambahkan dimensi keempat dari tauhid, yakni tauhid mulkiyah atau hakimiyyah. Dimensi ini menegaskan bahwa hanya Tuhanlah penguasa di muka bumi ini. Konsekwensinya, manusia tidak mempunyai hak untuk membuat peraturan, hokum atau undang-undang, karena tugas manusia di muka bumi hanyalah mengimplimentasikan hukum Tuhan yang telah ditetapkan di dalam al-Qur’an dan hadits.  Konsep tauhid ini dikembangkan oleh Abul A’la al-Maududi dari Pakiskan, yang kemudian diadopsi oleh Sayyid Qutb di Mesir. Namun, harus ditegaskan di sini bahwa mayoritas kelompok Salafi menolak konsep tauhid mulkiyyah.

  1. Mengikuti Sunna (Ittibā’ al-Sunna) dan Menentang Bid’ah

Sunnah secara harfiah berarti “jalan” atau “perjalanan.” Sunnah juga dapat diartikan sebagai praktek dan kebiasaan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw. Yang dimaksud dengan sunnah di sini adalah jalan, cara berfikir dan cara beragama yang benar yang sesuai dengan metode dan praktek Nabi Muhammad Saw. dan Sahabatnya.[21] Ini artinya, sunnah diartikan sebagai lawan dari bid’ah (innovasi).

Diskusi tentang bid’ah berawal dari anggapan utama bahwa Islam adalah agama yang sempurna, dan karenanya tidak memerlukan tambahan apapun dalam beribadah dan pemikiran. Kesempurnaan ini telah ditegaskan dalam al-Quran 5:3: “Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagimu agamamu, dan telah kusempurnakan bagimu nikmat-Ku, dan Aku telah meridlai Islam sebagai agama bagi kamu sekalian.” Ayat ini didukung dengan sebuah hadits yang berbunyi: “Barang siapa yang mengerjakan suatu amal yang tidak ada keterangan dari kami (Allah dan Rasul-Nya) maka tertolaklah amalannya.”[22]

Kelompok Salafi sangat keras dalam mengecam bid’ah. Semua pemikiran dan praktek keagamaan yang tidak mempunyai akar, dalil dan contoh dari generasi Salaf dianggap bid’ah. Perhatian mereka tidak hanya tertuju kepada tradisi telah berkembang di masyarakat Muslim seperti perayaan maulid Nabi dan tahlilan, tetapi juga diarahkan kepada tradisi baru yang dianggap sebagai symbol syi’ar Islam seperti Musābaqa Tilāwat al-Qur’an (MTQ).[23]

 

  1. Al-Walā’ wa al-Barā’

Ajaran pokok lainnya yang terkait erat dengan tauhid adalah ajaran tentang al-walā’ wa al- barā’ yang bisa diartikan sebagai “cinta dan benci”. Secara lughawi al-walā’ berarti “mencintai, menolong, mengikuti, mendekat kepada sesuatu”, sementara al-barā’ bermakna “menjauhi, membersihkan diri, melepaskan diri dan memusuhi.”[24]  Dengan demikian, konsep al-walā wa al-barā’ mengandung pengertian “cinta dan benci karena Alah”. Ajaran ini mengimplikasikan bahwa seorang Muslim yang benar harus mencinta dan menolong orang Muslim lainnnya, dan membela kepentingan Islam (al-walā), dan pada saat yang sama, ia harus kritis dan mencela gaya kehidupan yang tidak Islami, dan berusaha dengan cara apapun untuk menjaga dirinya dari kerusakan gaya kehidupan yang tidak Islami (al-barā’).[25]

Konsep al-wala wa al-bara berasal dari ayat-ayat al-Qur’an, seperti 3:28:

“Janganlah orang-orang Muslim mengambil orang-orang kafir menjadi wali, dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena siasat memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa-)Nya. Dan hanya kepada Allah tempat kembalimu.”

Berdasarkan pada ayat-ayat di atas, kelompok Salafi berpendapat bahwa ajaran al-walā wa al-barā’ tak bisa dipisahkan dari agama; konsep tersebut merupakan bagian dari konsep tauhid secara keseluruhan; sebagai manifestasi dari syahadat, “lā ilāha illā Allāh”. Konsep al-wara al-bara harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari baik dalam keyakinan, ucapan dann tindakan.[26] Hal ini mencakup, di antaranya, tidak membantu orang-orang kafir, tidak menghadiri perayaan orang-orang kafir, tidak mengucapkan salam kepada mereka, tidak meniru kebiasan mereka, tidak tinggal di dalam negeri orang-orang kafir dan tidak mengunjunginya.[27]

  1. Taat kepada Pemerintah

Doktrin tentang ketaatan rakyat kepada pemerintah merupakan salah satu doktrin terpenting dalam  ajaran Salafi. Ketaatan ini menjadi hampir absolut karena hanya bisa dicabut oleh sebab yang terkait dengan keimanan. Ajaran Salafi tentang ketaatan terhadap pemerintah didasarkan atas al-Qur’an, hadits dan pendapat ulama Salaf.

Argumen utama dari ketaatan kepada pemerintah adalah ayat al-Qur’an 4: 59 yang menyatakan bahwa Umat Islam harus taat kepada Allah, Rasul dan penguasa (waliyy al-amr). Menurut Salafi, yang termasuk dalam kategori waliyul amri adalah pemimpin, pemerinah dan ‘ulama.[28] Dalam ayat lain 4: 83, disebutkan bahwa umat Islam harus kembali kepada Rasul dan penguasa. Berbeda dengan kepasrahan kepada Allah dan Rasulnya, taat kepada pemerintah mempunyai syarat, yaitu selama perintah penguasa tersebut tidak bertentangan dengan perintah Allah. Jika penguasa menyuruh umat Islam untuk ingkar kepada Allah, seperti berbuat maksiat, maka umat Islam dilarang untuk taat kepadanya.[29]

Di samping ayat di atas, ada beberapa hadits yang mendukung doktrin Salafi tersebut, di antaranya adalah hadits yang menyebutkan bahwa umat Islam  diwajibkan untuk taat kepada penguasa, tidak dibenarkan untuk memberontak terhadapnya, meskipun penguasa tersebut berbuat zalim, represif dan bahkan berbuat jahat seperti syetan.[30] Dari contoh Salaf, orang-orang Salafi mengemukakan peristiwa penganiyaan penguasa terhadap ulama Salaf, seperti Ahmad bin Hanbal, yang meskipun dianiaya oleh penguasa, ia tetap bersikap loyal kepada penguasa.[31]

Berdasarkan atas sumber-sumber tersebut di atas, orang-orang Salafi berkeyakinan bahwa seorang Muslim tidak dibenarkan untuk memberontak terhadap penguasa, selama penguasa tersebut membiarkan umat Islam untuk menjalankan ibadahnya, seperti shalat lima waktu, puasa bulan Ramadlan, membayar zakat, dan haji. Menurut kelompok Salafi, hanya dua alasan yang dengannya umat Islam dibolehkan untuk memberontak: penguasa memperlihatkan kekafirannya secara nyata, dan tidak menjalankan sholat.[32] Meskipun demikian, adalah sulit bagi umat Islam untuk menentukan keimanan seseorang, apakah seorang penguasa sudah kafir atau masih dalam ranah keislaman. Keimanan seseorang terletak dalam hati dan tidak bisa dinilai dari yang nampak seperti ucapan, karena ucapan tidak dapat menunjukkan kepada keimanan seseorang. Tindakan jahat dan zalim penguasa belum bisa menyebabkan seorang penguasa menjadi kafir. Untuk menentukan apakah seseorang itu kafir atau Muslim adalah tugas ‘ulama. Rakyat biasa tidak bisa menudah penguasa sebagai kafir.[33]

 

  1. Catatan Akhir

Fundamentalis dan Salafi mempunyai pemahaman yang sama terhadap nash. Keduanya memahami sumber agama secara literal dan menolak penafsiran yang didasarkan atas nalar (rasio). Pemahaman seperti ini kemudian menggiring kepada model keberagamaan yang kaku dan berusaha untuk mempraktekkan model beragama generasi awal Islam (Salaf) ke dalam situasi kini dan saat ini. Sikap keberagamaan seperti ini cenderung menegasikan perbedaan ruang dan waktu. Model keberagamaan ini yang membedakan antara kelompok fundamentalis, termasuk Salafi, dari Muhammadiyah. Meskipun mengikuti generasi Salaf, Muhammadiyah memberikan peran kepada akal untuk menafsirkan ajaran agama dalam konteks kekinian dan sesuai dengan tuntutan zaman.

 

 

[1] G.H. Jansen, Militant Islam, London: Pan Books, 1979.

[2] J.J.G. Jansen, Dual Nature of Islamic Fundamentalism, New York: Cornell University Press, 1997.

[3] Martin E. Marty dan R. Scott Appleby mempunyai proyek besar kajian tentang gerakan fundamentalisme di setiap agama, disebut dengan The Fundamentalism Project. Proyek ini menghasilkan 5 buku di antaranya, Martin E. Marty dan R. Scott Appleby, eds., Fundamentalisms Observed, Chicago and London: Chicago University Press, 1991; Ibid, Fundamentalisms Comprehended, Chicago and London: Chicago Uninversity Press, 1995.

[4] Abdel Salam Sidahmed dan Anoushiravan Ehtesahmi, Islamic Fundamentalism, Oxford: Westview Press, 1996.

[5] Mansoor Moaddel dan Kamran Talattof, Modernist and Fundamentalist Debates in Islam: A Reader, New York: Palgrave Macmillan, 2002.

[6] Azyumardi Azra, Transformasi Politik Islam: Radikalisme, Khilafatisme dan Demokrasi, Jakarta: Prenada Media Group, 2016, h. 119.

[7] Azyumardi Azra, Transformasi Politik Islam, h. 121.

[8] Martin E. Marty dan Scott Appleby, “Introduction”, dalam Ibid (eds.), Fundamentalisms Observed, Chicago dan London: The University of Chicago Press, 1991, h. ix-x.

[9] Gabriel A. Almond, Emmanuel Sivan dan R. Scott Appleby, “Fundamentalism: Genus and Spices”, dalam Martin E. Marty dan Scott Appleby, (eds.), Fundamentalisms Observed, Chicago dan London: The University of Chicago Press, 1991, h. 405-407.

[10] Abdul Hakim bin Amir Abdat, Lau Kaana Khairan la Sabaquunaa Ilaihi, Jakarta: Pustaka Mu’awiyah bin Abi Sufyan, 2007, h. 60-62.

[11] Yazid Jawwas, Mulia, h. 14.

[12] Yazid Jawwas, Mulia, h. 21.

[13] Yazid bin Abdul Qadir Jawwas, Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Bogor: Pustaka Imam Syafi’i, 2006. h. 37.

[14] Ibid., h. 14; Abdul Hakim Abdat, Lau Kaana.

[15] Bernard Haykel, “On the Nature of Salafi Thought and Action”, dalam Roel Meijer (ed.), Global Salafism, h. 38-39.

[16] Wawancara dengan Aunurrafiq Ghufran, directur of pesantren al-Furqan, Gresik, 26 December 2009.

[17] Yazid Jawwas, Syarah Aqidah, h. 146.

[18] Yazid Jawwas, Syarah Aqidah, h. 151.

[19] Ibid., p. 132.

[20]Ta’ṭīl berarti membatalkan atau mengingkari Sifat Allah. Taḥrīf or ta’wīl berarti mengubah makna literal Sifat-sifat Allah dan menerjemahkannya ke dalam makna majazi. Takyīf berarti bertanya bagaimana Sifat Allah tersebut. Tashbīh berarti membandingkan Sifat-Sifat Allah dengan sifat makhluk hidup atau menyamakannya. Tafwīḍ berarti tidak menentukan makna Sifat-Sifat Allah sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Lihat, Yazid Jawwas, Syarah Aqidah, h. 132, cacatan no. 218, 219, 220, 221. Juga, Muhammadi bin Jamil Zainu, al-Firqatun al-Najiyah: Jalan Hidup Golongan Selamat, Yogyakarta: Media Hidayah, 2003, h. 32-33.

[21] Abdul Hakim bin Amir Abdat, Risalah Bid’ah, Jakarta: Pustaka Mu’awiyah bin Abi Sufyan, 2004, h. 10. Lihat juga, Abd al-Salam bin Salim al-Suhaymi, Menjadi Salafy Sejati, Yogyakarta: Pustaka al-Haura’, 1429 (2009), h. 39-41.

[22] Ibid., p. 23. Also, Abdul Hakim Abdat, Risalah Bid’ah, h. 47-48.

[23] Dalam karya Risalah Bid’ah, Abdul Hakim Abdat mengidentifkasi lebih dari 500 praktek dan pemikiran keagamaan yang dianggap sebaai bid’ah.

[24] Yazid Jawwas, Prinsip Dasar Islam, h. 221-222.

[25] Noorhaidi Hasan, Laskar Jihad: Islam, Militancy, and the Quest for Identity in Post-New Order Indonesia, New York: Cornell University, 2006, h. 138.

[26] Yazid Jawwas, Prinsip Dasar Islam, h. 223.

[27] Ibid., h. 220-238

[28] Meskipun ada beberapa perbedaan penafsiran tentang frasa “waliyy al-amr minkum” (penguasa di antara kamu), kelompok Salafi berpendapat bahwa yang termasuk dalam kata penguasa adalah ulama. Lihat, “Kewajiban Mentaati Penguasa dalam Perkara yang Baik (Tafsir Surat An-Nisa’ 59)”, in Salafy, Vol. 5, No. 7,  2005, h. 44-46

[29] Abu Abd al-Rahman Fauzi al-Atsari, Meredam Amarah terhadap Pemerintah, Pekalongan: Pustaka Sumayya, 2005, h. 49

[30] Lihat, Abd al-Rahman Fauzi al-Atsari, Meredam Amarah terhadap Pemerintah, h. 56.

[31] Abd al-Rahman Fauzi al-Atsari, Meredam Amarah, h. 68.

[32] Lihat, “Akhlak Kaum Muslimin Menghadapi Penguasa yang Dhalim,” Salafy, Vol. 5, No., 7, 2008, h. 60.

[33] Ja’far Umar Thalib, “Sikap Politik Ahlus Sunnah”, in tabloid Laskar Jihad, 20, June 2002, h. 5. Juga, wawancara dengan Ahmas Faiz Asifuddin, direktur pesantren Imam Bukhari, Solo, February 21, 2009.

——————- 

* Makalah disampaikan dalam “Pengkajian Ramadan 1438 H” yang diselenggarakan oleh PP Muhammadiyah di Jakarta, 5-7 Juni 2017.

** Dosen Fakultas Ushuluddin dan Peneliti pada Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.