Milisi Rohingya Serang Truk Militer di Rakhine, Lima Orang Terluka

0
42
Peta wilayah Rahine, negara bagian Myanmar yang berada di utara yang dihuni mayoritas Muslim. (Sindonews.com)

Myanmar, MENTARI.ONLINE – Milisi Rohingya menyerang kendaraan militer di negara bagian Rakhine Myanmar, melukai lima pasukan keamanan, media pemerintah dan petugas mengatakan hal itu dan milisi meng-klaim bertanggung jawab terhadap serangan.

Gelombang serangan milisi terhadap pos pasukan keamanan pada 25 Agustus 2017 memunculkan operasi pasukan pembersihan milisi di bagian utara negara yang merupakan tempat tinggal mayoritas Muslim yang membawa pada penyebaran kekerasan dan pembakaran serta pengungsian 650 penduduk Rohingya ke tetangga Myanmar Bangladesh.

PBB menuduh  kampanye militer Myanmar sebagai pembersihan etnis. Kelompok mayoritas Budha di Myanmar menolak tuduhan tuduhan tersebut.

Tetapi sejak 25 Agustus 2017, milisi Pasukan Penyelamat Rohingya Arakan (Arakan Rohingya Salvation Army/ARSA), yang meng-klaim bertanggungjawab terhadap serangan terkoordinasi terhadap 30 pos keamanan, telah mengatakan hanya melakukan sedikit serangan sporadis.

Pihak militer Myanmar mengatakan “ektrimis Bengali adalah teroris ARSA” melakukan penyerangan di hari Jumat pada sebuah truk dan membuat seorang pasukan dibawa ke rumah sakit.

“sebuah kendaraan… telah diserang oleh 20 milisi dari pegunungan menggunakan alat rakitan dan senapan kecil,” kata pemerintah. Pihak militer menyebar ada sekitar 10 penyerang.

Juru bicara ARSA mengatakan kelompok mereka telah melakukan penyerangan.

“Iya., ARSA mengambil tanggung jawab untuk pergerakan militer yang terakhhir,”  ujar juru bicara melalui layanan pesan. Informasi lebih lengkap akan diberikan lebih lanjut.

ARSA mengaku terpisah dari  jaringan kelompok militan manapun dan mengatakan berjuang sampai berakhirnya tindak kekerasan erhadap rakyat Rohingya.

Majalah Frontier yang berbasis di Yangoen menyebutkann penduduk yang tinggal di dekat desa lokasi penyerangan mengatakan pertempuran bersenjatan secara sporadis terdengar pada saat terjadi penyerangan. Koran yang dijalankan pemerintah melaporkan pada Sabtu bahwa pertempuran berlanjut setelah penyerangan.

Lokasi penyerangan terjadi jauh dari jangkauan media.

Sementara tu, Myanmar dan Bangladesh telah mendiskusikan rencana untuk merepatriasi pengungsi Rohingya tapi tidak nyamannya Myanmar sepertinya meningkatkan keraguan mengenai berapa cepat rencana tersebut bisa dilakuan.(joe/Reuters)