Myanmar Gunakan Cara Halus Tapi Kejam Agar Warga Rohingya Pergi

0
27
Ratusan pengungsi Rohingya masih membanjiri Bangladesh tiap minggu. (EPA)

Myanmar, MENTARI.ONLINE – Pihak berwenang di Myanmar telah merampok, menculik dan secara sengaja melakukan pembiaran terjadinya kelaparan terhadap pria, wanita dan anak-anak Rohingya, dalam upaya membuat hidup “sangat tidak dapat ditolerir” bagi anggota kelompok minoritas sehingga mereka akan meninggalkan negara tersebut, kata Amnesty International.

Dalam sebuah briefing yang dikeluarkan pada Rabu (7/2/2018), kelompok hak asasi manusia tersebut menuduh bahwa “pembersihan etnis terus berlanjut” terhadap orang Rohingya, dimana sekitar 690.000 di antaranya telah meninggalkan Myanmar sejak negara tersebut melancarkan tindakan keras di negara bagian Rakhine utara Agustus 2017.

Pasukan keamanan Myanmar telah merampok keluarga Rohingya di pos pemeriksaan saat mereka mencoba melarikan diri ke Bangladesh dan menculik perempuan dan anak perempuan dari desa mereka, mendorong orang lain untuk pergi dalam ketakutan, Amnesty melaporkan.

Namun, warga Rohingya mengatakan alasan utama mereka terus melarikan diri dari negara tersebut adalah kekurangan makanan.

“Kami tidak bisa mendapatkan makanan, itu sebabnya kami melarikan diri,” Dildar Begum, dari sebuah desa dekat kota Buthidaung di negara bagian Rakhine, mengatakan kepada Amnesty International.

Kekurangan pangan sebagian besar disebabkan oleh tindakan pasukan keamanan Myanmar, yang memblokir warga Rohingya untuk pergi ke sawah, pasar dan bantuan kemanusiaan mereka, kata Amnesty.

“Tindakan yang disengaja oleh pemerintah Myanmar … pada dasarnya membuat banyak orang Rohingya kelaparan karena mencoba untuk tinggal di desa mereka,” kata kelompok tersebut.

Amnesty mendasarkan temuannya pada wawancara yang dilakukan di Bangladesh dengan 11 orang warga Rohingya dan delapan wanita yang meninggalkan rumah mereka pada bulan Desember dan Januari.

“Alih-alih meneror penduduk melalui pembunuhan, pemerkosaan, dan pembakaran desa Rohingya yang meluas, pasukan keamanan saat ini menggunakan tindakan yang lebih tenang dan lebih halus untuk memeras orang, membuat hidup begitu tak tertahankan sehingga mereka memiliki sedikit pilihan selain untuk pergi,” kelompok tersebut melaporkan. (joe/Aljazeera.com)