Pernikahan Usia Dini Seringkali Menimbulkan Dampak Buruk

0
97
Pernikahan dini
Ilustrasi.RMOL.jabar.com)

Pernikahan Usia Dini Seringkali Menimbulkan Dampak Buruk

Oleh: Yusmi Dwi Putri

Pernikahan menjadi bagian penting dalam kehidupan manusia. Seseorang yang membuat ikatan antara wanita dengan pria secara sah bertujuan membentuk keluarga, baik yang disahkan melalui jalur hukum maupun sebagai pasangan suami isteri ataupun secara adat atau kepercayaan. (Desiyanti, 2015).

Sementara mengenai umur pernikahan yang sesuai dengan rentang usia aman tergantung ketentuan negara masing-masing.

Di Indonesia, pasal 7 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang hukum perkawinan menyebutkan bahwa usia minimal yang diperkenankan menikah adalah 19 tahun bagi laki-laki dan 16 tahun bagi perempuan. Sedangkan usia terbaik dan membahagiakan untuk menikah, bagi perempuan adalah 19-25 tahun, dan laki-laki usia 20-25 tahun. Untuk seorang remaja yang berusia antara 10-19 tahun yang telah melakukan ikatan lahir batin sebagai seorang suami istri dengan tujuan membentuk keluarga dikategorikan sebagai pernikahan dini atau pernikahan muda.

 

Perkawinan di bawah umur dilakukan oleh pasangan yang belum memenuhi persyaratan umur berdasarkan peraturan perundang-undangan. Sedangkan berdasarkan hukum agama, pernikahan dibagi menjadi lima, yaitu Wajib, Sunnah, Makruh, Mubah, dan Haram. Hal ini juga disebutkan dalam hadits yang diikutip dan diterjemahkan dari Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-“Asqalaanii 773-852 H. Al-KitabBuluughulMaraam Min AdillatilAhkam sebagai berikut: Dari Abdullah bin Mas’udra, Rasulullah SAW bersabda: “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kamu mampu menafkahi (ba’at) maka hendaklah menikah. Karena nikah itu menjaga pandangan mata, menjaga kesucian kemaluan, dan barangsiapa yang belum mampu menafkahi maka hendaklah berpuasa.Karena sesungguhnya puasa akan menjadi obat bagimu (menghindari nafsu syahwat).” (H.R. Muttafaq Alaihi).

 

Fakta yang terjadi di masyarakat,ditemukan bahwa banyak orang yang menikah di bawah usia yang ditetapkan oleh undang-undang atau perkawinan dibawah umur (pernikahan dini-red). Sebagai contoh, beberapa tahun terakhir, media nasional sempat di gemparkan dengan keputusan yang diambil oleh putera dari Ustad Arifin Ilham, Alvin Faiz, yang memutuskan untuk menikah di usia muda. Kala itu,usianya baru menginjak 17 tahun ketika hendak menyunting seorang mualaf keturunan Tionghoa, Larissa Chou yang berumur 19 tahun.

 

Pernikahan di bawah umur ini tidak hanya dilakukan oleh Panda Alvin dan Larissa saja, mereka hanya sebagai salah satu contoh atau bukti nyata.Bahkan di wilayah Kota Surakarta dan Karanganyar berdasarkan data awal yang dikutip dari penelitian Kusumaningrum tahun 2015, perkawinan di bawah umur yang tercatat dari Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Laweyan Kota Surakarta dari Januari hingga Agustus 2014 sebanyak dua orang mempelai laki-laki dan 49 orang mempelai perempuan. Hal ini menyebabkan ketidaksiapan mental bagi beberapa calon mempelai.

 

Banyak faktor yang mempengaruhi pernikahan di usia muda, faktor ini yaitu ingin menjaga pandangan supaya tidak terjadi zina, menyempurnakan separuh agama, keinginan, dan lain sebagainya. Menurut penelitian yang dilakukan Desiyanti, faktor yang paling dominan terjadinya pernikahan dini diantaranya peran orang tua dalam komunikasi keluarga. Orang tua yang kurang berperan memiliki peluang lebih besar untuk melaksanakan pernikahan dini pada anaknya,dibandingkan orang tua yang memiliki peran baik pada anaknya. Selain itu pendidikan orang tua juga berpengaruh terhadap kejadian pernikahan dini, orang tua yang berpendidikan rendah memiliki peluang lebih besar untuk melaksanakan pernikahan dini,disbanding orang tua yang memiliki pendidikan tinggi. Lanjutnya, Pendidikan individu juga memengaruhi tingginya pernikahan muda.

Praktik perkawinan usia muda seringkali menimbulkan dampak buruk, sebagaimana yang dipaparkan Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2016 yang bisa dilihat dibawah ini:

1.Bagi Anak Perempuan

Kondisi yang fatal dan mengancam jiwa akan dialami oleh 14,2 juta anak perempuan di seluruh dunia yang menjadi pengantin anak setiap tahunnya selama periode 2011-2020. Perkawinan usia muda menyebabkan kehamilan dan persalinan dini.Perkawinan ini juga menimbulkan beban psikologis dan emosional yang hebat bagi mereka. Selain itu, juga mengakibatkan kesenjangan usia, dimana anak perempuan jauh lebih muda dari pasangan mereka.

  1. Bagi Anak-Anak Mereka

Perkawinan usia anak memiliki dampak antargenerasi. Bayi yang dilahirkan oleh anak perempuan yang menikah pada usia muda memiliki risiko kematian lebih tinggi, dan kemungkinannya dua kali lebih besar untuk meninggal sebelum usia 1 tahun dibandingkan dengan anak-anak yang dilahirkan oleh seorang ibu yang telah berusia dua puluh tahunan.

  1. Bagi Masyarakat

Perkawinan usia anak tidak hanya mendasari, tetapi juga mendorong ketidaksetaraan gender dalam masyarakat. Perkawinan usia muda dapat menyebabkan siklus kemiskinan yang berkelanjutan, peningkatan buta huruf, kesehatan yang buruk kepada generasi yang akan datang, dan merampas produktivitas masyarakat yang lebih luas, baik jangka pendek maupun jangka panjang.

 

—————-

Pernikahan dini
Ilustrasi.RMOL.jabar.com)

Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta