Realisasi PNBP Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi 2017 Terlampaui

0
9
Paparan Capaian Kinerja Akhir Tahun 2017 Kementrian ESDM.(.ebtke.esdm.go.id)

Jakarta, MENTARI.ONLINE – Realisasi penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari sub sektor Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) tahun 2017 bisa melampau target APBN-P 2017.

Selama 2017, realisasi PNBP dari sub sektor EBTKE kategori panas bumi (geothermal) melampaui target hingga 140 persen dari target yang dipatok Rp 671,26 miliar atau sebesar Rp 933 miliar.

Dibanding tahun 2016, pendapatan dari PNBP sub sektor EBTKE Tahun 2017 juga terbilang lebih besar walau tipis saja dimana tahun 2016 PNBP dari sub sektor EBTKE mencapai Rp 932,28 miliar.

“Dirjen EBTKE, Kementrian ESDM, Rida Mulyana mengatakan capaian PNBP tersebut menjadi rekonsiliasi di waktu mendatang serta tentu saja target tahun 2018 yang harus bisa dicapai.

“Namun ini masih ada target yang dapat kita capai di 2018,” tukas Rida digedung ESDM, Kamis (10/1/2018).

Kementrian ESDM mencatat realisasi PNPB dari EBTKE kategori panas bumi tahun 2017 berasal dari dua komposisi yaitu dari wilayah kerja panas bumi (WKP) existing dan WKP Izin Panas Bumi (IPB).

Penerimaaan pajak EBTKE kategori geothermal dari WKP existing paling tinggi yaitu Rp 909 miliar. Sedang WKP IPB mencapai Rp 24 miliar. Kernaikan penerimaan pajak dari EBTKE dipengaruhi beberapa komponen seperti iuran tetap eksplorasi, iuran tetap produksi, royalti bonus dan bonus produksi panas bumi.

Lalu berapa target PNBP dari EBTKE kategori panas bumi tahun 2018? Rida Mulyana optimis realiasi penerimaan negara dari panas bumi pada tahun ini mengalami kenaikan lebih tinggi.

Target penerimaan PNBP dari EBTKE geothermal pada tahun 2018 menurut Rida mencapai Rp 700 miliar. Sejumlah faktor dinilai cukup membantu merealisasikan PNBP EBTKE geothermal misalnya penambahan COD 2018.

“Juga ditentukan kurs dolar per rupiah, adanya PBNP Panas Bumi darai komposisi WKP IPB yang masih dalam tahap eksplorasi dalam bentuk PBB. Demikian pula WKP eksisting, yang perlu pembagian dari migas buat kontraktor, dan buat negara.

“Kita mampu lebih besar (target penerimaan pajak PBNP0,” kata Rida Mulyana. (joe/Kompas.com)