Revolusi Belajar dan Keajaiban Berfikir

0
218

Oleh Diana Pramudya  Wardhani SE, S.Pd, MM

Abad 21 merupakan abad informasi dan komunikasi yang ditandai dengan perkembangan pesat teknologi informasi dan komunikasi. Baik itu berupa televise, telepon, komputer maupun internet mengalami perkembangan yang luar biasa.

Sekolah sebagai institusi pencetak generasi yang hidup dimasa mendatang harus lebih mempunyai kepedulian terhadap perkembangan yang telah terjadi. Jika tidak, maka anak-anak yang kita didik akan tertinggal sangat jauh, bahkan termakan perkembangan zaman. Bagaimana bisa? Ya, dengan perkembangan infromasi dan komunikasi tidak mengenal toleransi. Kita dihadapkan pada dua pilihan yaitu mampu beradaptasi dan mengadopsi atau kita akan tertinggal jauh di belakang.

Guru atau pendidik yang pada abad ini dan bahkan abad-abad selanjutnya ditantang untuk melakukan akselerasi terhadap perkembangan informasi dan komunikasi. Bahkan pembelajaran di kelas dan tata pengelolaan kelas saat ini haruslah disesuaikan dengan standart kemajuan TIK atau lebih dikenal dengan ICT (Information Communication Technology).

Revolusi merupakan sebuah perubahan sosial dan budaya dengan berlangsung sangat cepat dan menyangkut dasar atau pokok-pokok dalam kehidupan masyarakat. Dimana perubahan tersebut dapat direncanakan ataupun tidak direncanakan. Bahkan dapat dijalankan tanpa kekerasan maupun dengan kekerasan. Karena revolusi sendiri merupakan suatu upaya merobohkan, menjebol sistem lama dan membangun suatu sistem yang sama seklai baru.

Revolusi belajar sendiri merupakan suatu sistem pembelajaran yang bertanggung jawab step by step dari masa ke masa. Dengan adanya revolusi belajar diharapkan terjadi peralihan dari dari sistem lama ke sistem yang baru dengan tujuan menunjukkan kualitas sebuah pendidikan.

Seperti yang telah diungkapkan David Kerr (Chief Executive Southland Polytechnic) bahwa para guru menjadi manajer pembelajaran di pusat-pusat pembelajaran dengan menempatkan siswa sebagai klien, sama seperti klien pengacara dan profesi lain.

Sekolah adalah ajang kegiatan yang paling menarik di lingkungan tempat sekolah itu berada. Dari sinilah mereka diarahkan untuk menjelajahi seluruh dunia pengalaman dan pengetahuan. Setiap guru adalah manajer terlatih yang mengelola pusat belajar yang bertindak sebagai mentor.

Bahkan setiap orang dari segala umur dapat merancang kurikulum sendiri. Dengan mengakses sumber-sumber informasi guru mempelajari hal-hal baru yang mereka minati dengan cepat serta mudah.

Di sekolah sendiri telah diberikan tiga “mata pelajaran” utama yaitu belajar tentang cara belajar, cara berpikir, dan cara mengelola masa depan sendiri. Akan tetapi semua itu tidak dianjurkan sebagaimana mata pelajaran biasa, namun lebih diintegerasikan dalam model yang berlaku pada semua mata pelajaran.

Tiap sekolah mampu mengembangkan kompetensi yang lebih tinggi dari lulusan sebelumnya dengan kemampuan dasar seperti membaca, menulis, matematika, sains, geografi, sejarah, pengetahuan umum dimana dapat disebut sebagai kemelekan budaya (cultural literacy).

Kita adalah generasi pertama yang dikepung oleh media digital (Don Tapscott, Growing Up Digital). Akan tetapi revolusi yang sebenarnya tidak hanya soal persekolahan, melainkan soal pembelajaran yaitu dengan menemukan cara belajar, cara berpikir bahkan teknik-teknik baru diterapkan pada masalah dan segala tantangan untuk semua tingkat usia.

Revolusi pembelajaran secara total sudah tentu akan melibatkan lebih dari sekedar masalah persekolahan. Berbagai terobosan dalam pembelajaran telah dilakukan, baik itu berasal dari guru-guru yang kompeten; dari dunia bisnis; dari psikologi olahraga dengan teknik kepelatihan. Sebagian dari penelitian otak manusia, dari penelitian gizi dan dari program kesehatan dan bahkan dari berbagai kalangan yang saling berkaitan dengan sekolah maupun dunia bisnis dengan bersama-sama untuk merancang kembali masa depan kita.

Untuk mencapai masyarakat pembelajar dibutuhkan 13 langkah yang saling berkaitan, yaitu :

  1. Peran baru komunikasi elektronik

Kita hidup di era pertama sepanjang sejarah manusi ketika setiap orang dapat berkomunikasi dengan siapa saja. Akan tetapi saat ini adalah era pertama dimana anak-anak lebih menguasai teknologi secara dominan dibandingkan para guru maupun orang tua. Don Tapscott mengungkapkan anak-anak yang tidak memiliki akses ke media baru justru akan terhambat pertumbuhannya. Dan jika proses ini dibiarkan serta dikendalikan oleh kekuatan pasar ekonomi digital maka akan terjadi masyarakat dua kelas yaitu antara yang menguasai informasi dan yang tidak, antara yang dapat berkomunikasi ke seluruh dunia dan tidak. Dan yang lebih dikhawatirkan akan tumbuh “apartheid komunikasi” dimana kelas miskin tidak tahu dan tidak dapat melakukan apa pun.

Revolusi digital memicu munculnya pemikiran ulang tentang metode belajar dan mengajar karena hamper 10.000 artikel baru dipublikasikan dalam setiap harinya. Melalui internet kita dapat menawarkan materi pelajaran kepada siapa saja, kapan saja, dimana saja dan para siswa dapat mengakses materi pelajaran selama 7 hari dalam 24 jam sehari.

Apabila kita tidak memanfaatkan komunikasi elektronik dalam dunia pendidikan maka, kita seperti nenek moyang kita yang gagal dalam menggunakan alphabet , mencetak buku atau bahkan mencoba menggosok batang kayu untuk menciptakan api. Menurut Peter Drucker pakar manajemen terkemuka asal Amerika bahwa bangsa yang benar-benar memanfaatkan ledakan komunikasi digital dan menghubungkannya dengan teknik-teknik pembelajaran baru niscaya akan memimpin dunia di bidang pendidikan.

  1. Pelajari komputer dan internet

Dalam hal ini tidak terlalu ditekankan pentingnya belajar secara khusus kecakapan sejak dini. Lain hal dengan komputer dan internet seperti halnya telepon pada abad ke 20. Teknologi hanyalah teknologi bagi orang yang dilahirkan sebelum teknologi itu ditemukan (Alankey, seorang visioner dan partner Apple). Ini sama halnya dengan seseorang tidak mampu bertahan hidup didunia ekonomi modern tanpa telepon, tanpa komputer dan internet.

  1. Perlunya perombakan dramatis dalam pendidikan orang tua

Sebagian besar peneliti tentan gotak menyimpulkan 50% kemampuan belajar manusia berkembang pada empat tahun pertama, atau dapat disimpulkan pada tahun-tahun awal tersebutlah otak bayi membentuk 50% dari koneksi sel otak utama dimana jalur jalannya siap menyimpan semua pengetahuan dimasa yang akan datang.

Sehingga bukanlah sekolah yang menjadi lembaga pendidikan yang terpenting akan tetapi rumahlah yang menjadi lembaga pendidikan pertama. Lalu siapa yang menjadi pendidik pertama dan utama yang sangat berperan ? Orang tua, ya orang tualah yang menjadi pemeran utama dalam pendidikan jadi bukanlah seorang guru.

Banyak di negara maju kurang dari 50% calon ibu bahkan calon ayah yang mau menghadiri pelatihan pra kelahiran, bahkan nyaris tidak ada sama sekali pendidikan parenting apalagi pelatihan tentang pengaturan makanan yang dibutuhkan perkembangan otak atau bahkan rangsangan terbaik dibutuhkan anak-anak.

  1. Prioritas layanan kesehatan bagi anak-anak

Tahun-tahun pertama merupakan saat yang sangat penting untuk pembelajaran sembilan bulan pra lahir dan lima tahun pertama yang biasa kita sering dengar dengan Golden Age merupakan saat paling penting yaitu kesehatan, baik dari pengetahuan makanan bergizi guna proses belajarnya dan pemeriksaan kesehatan secara utuh.

Pada saat lahir setiap anak memiliki potensi kecerdasan yang lebih besar daripada yang pernah digunakan  Leonardo Da Vinci (Glenn Doman, penulis Teach You Baby To Read). Penelitian yang dilakukan selama 10 tahun dari ilmuwan asal Inggris Prof. Michael Crawford tentang pengaturan makanan pada ibu hamil dan bayinya mendapati sangat besarnya ketidak pedulian akan pengaruh gizi bagi nutrisi otak yang tumbuh bahkan sejak didalam kandungan.

Setiap petani dan tukang kebun pun tahu bagaimana cara mereka mendapatkan kentang yang besar atau bahkan bunga mawar yang indah, dan mereka tidak hanya memberi pupuk sehari sebelum dipanen atau dipetik. Akan tetapi petani atau tukang kebun sudah tentu menyiapkan akarnya dalam waktu yang hampir satu tahun sebelum menghasilkan bunga mawar yang indah. Dan hal ini membuat aneh ketika kebanyakan orang justru tidak memikirkan ketika bersiap-siap mempunyai anak.

  1. Program pengembangan anak-anak

50% kemampuan belajar dikembangkan dalam waktu empat tahun pertama dan 30% sampai berumur delapan tahun dan hal ini harus menjadi prioritas utama.

  1. Kita dapat mengejar ketertinggalan pada usia berapa saja

Banyak program persamaan apalagi itu ditingkat sekolah  dasar akan tetapi untuk memulai ditingkat lanjutan sangat mustahil bagi sebagian orang dan kebanyakan teknik pembelajaran baru dapat dapat digunakan efektif untuk pembelajaran dan pengajaran orang dewasa.

  1. Melayani setiap gaya belajar individu

Orang-orang dari segala usia sebenarnya dapat belajar apa saja jika mereka melakukannya dengan gaya unik mereka dengan kekuatan pribadi mereka sendiri (Barbara Prashing, The Power of Diversity).

Setiap orang mempunyai gaya belajar yang berbeda-beda, baik itu secara berkelompok; berbaring; dilantai; sambil mendengarkan musik. Ada yang sebagian orang belajar secara visual sebagian lagi secara auditorial atau bahkan ada gaya belajar secara haptic (menggunakan indra perasa atau pelajar tactile) dan secara kinestetik dengan menggerakkan tubuhnya.

Sekolah lanjutan secara tradisional telah diolah dalam 2 jenis kecerdasan yaitu kecerdasan linguistik (berbicara, membaca, menulis) dan kecerdasan logis matematis (kemampuan dalam berlogika, matematika, sains). Saat ini sangat disayangkan banyak anak-anak putus sekolah lanjutan dikarenakan gaya belajar mereka tidak sesuai dengan gaya belajar yang diterapkan di sekolah. Teknik mengajar yang diterapkan pada sekolah lanjutan hanya digunakan untuk mengajaar para pelajar dengan gaya akademik bukanlah metode untuk peningkatan standar siswa.

Dengan merancang kurikulum sekolah memungkinkan tiap siswa diuji untuk dapat menemukan gaya belajar mereka sendiri atau memberikan pelatihan kepada guru untuk mengetahui gaya belajar siswa dan ini bukanlah hal yang mustahil.

  1. Belajar tentang cara belajar dan cara berpikir

Ada dua mata pelajaran untuk membentuk inti persekolahan yang diintegrasikan dalam pelajaran yaitu belajar tentang cara belajar dan cara berpikir. Dengan mempelajari cara otak bekerja, mememori, menyimpan informasi, mengambil dan menghubungkan dengan konsep lain.

Teknik belajar seperti ini mempunyai beragam nama diantaranya : belajar cepat (accelerated learning), belajar super (super learning), belajar terpadu (integrative learning) dan dimana teknik pembelajaran semacam ini justru menimbulkan kerumitan.

Sistem yang terbaik yaitu belajar sejati (true learning) dengan membuat siswa senang dan berkarakter sama dengan mendorong semua kecerdasan. Kita belajar 10% dari apa yang kit abaca, 20% dari apa yang kita dengar, 30% dari apa yang kita lihat, 50% dari apa yang kita lihat dan dengar, 70% dari apa yang kita katakan, 90% dari apa yang kita katakan dan lakukan (Vernon A. Magnesen, dikutip dalam Quantum Teaching).

  1. Apa yang harusnya diajarkan disekolah ?

Sering terjadi perdebatan yang sangat tajam dengan apa yang harus diajarkan di sekolah. Dengan konsep esensialisme diaman guru harus dapat mengajar siswa pengetahuan inti dari semua mata pelajaran yang ada dengan jumlah yang terbatas.

Ada pula yang menghendaki pendekatan ensiklopedisme dengan konsep memberikan materi pendidikan haruslah mencakup semua pengetahuan manusia dan menggunakan buku pangajaran berilustrasi pada semua mata pelajaran.

Para peneliti terus melakukan pendekatan pendidikan seperti yang dilakukan Comenius pada abad 18 bahwa semua orang disiapkan sederajat dan tidak adanya perbedaan antara penguasa dengan rakyat sebenarnya. Dan gerakan-gerakan perkembangan pendidikan mulai bermunculan diantaranya pada abad 19 yang telah dilakukan Jean Marc Gaspard Itard dengan menghubungkan indra pada pembelajaran anak usia dini, bahkan Johan Pestalozzi dari Swiss sebagai pengikut Rousseau mengemukakan pendapatnya jika indra harus dilatih melalui beberapa tahap dengan melakukan latihan formal sehingga muncullah gagasan atau ide untuk mendirikan sekolah bagi usia dini yang disebutnya Taman Kanak-Kanak dengan konsep dasar bahwa anak  kecil berkembang seperti bunga di taman.

Dengan cepatnya menyebar ke seluruh negara dimana suatu konsep menjadi gagasan tanding yang disebut pendekatan pragmatis yang konsepnya pendidikan berpusat pada anak-anak. Dan sempat dilontarkan sebuah pertanyaan dari Herbert Spencer “Pengetahuan apa yang paling berharga ?” Yaitu “Pengetahuan yang memampukan kaum muda untuk menangani berbagai masalah serta menyiapkan mereka menyelesaikan masalah yang kelak akan ditemui orang dewasa ditengah masyarakat demokratis”.

  1. Belajar dengan empat tingkat

Mata pelajaran apapun yang diambil siswa sebenarnya tolok ukurnya adalah seberapa besar kemampuannya dalam membangkitkan gairah belajar dengan menyenangkan sehingga dapat mendorong siswa membangun citra diri secara positif serta penting bagi pertumbuhan dan perkembangannya.

Dan tidak kalah pentingnya siswa yang putus sekolah yaitu kebutuhan mempelajari ketrampilan hidup; belajar tentang cara belajar serta cara berpikir; kemampuan akademik fisik dan artistik spesifik.

  1. Tiga tujuan belajar

Dengan mempelajari ketrampilan dan pengetahuan pada materi spesifik dan siswa dapat melakukan secara cepat, baik dan mudah. Mengembangkan kemampuan konseptual umum dengan belajar pada konsep yang sama akan tetapi dikaitkan kepada bidang yang berbeda. Dalam segala tindakan atau perbuatan kita dapat dikembangkan kemampuan dan sikap pribadi secara mudah.

  1. Dimana seharusnya kita mengajar ?

Dalam sejarah dunia, sekolah ruang kelas merupakan konsep baru dan apakah ini yang terbaik dan tetap dipertahankan dalam pembelajaran utama. Saat ini sebagian besar banyak orang belajar melalui praktik dengan seluruh indra.

  1. Berpikir terbuka dengan komunikasi yang jernih

Membuka pikiran dan mengomunikasikan pencapaian penelitian secara factual, jujur serta jelas sangatlah berlaku kepada siapa saja yang terliabt dalam dunia pendidikan, pembelajaran dn persekolahan.

Dan telah banyak penyebaran teori pendidikan yang terbukti salah dapat merusak masa depan jutaan anak. Metode belajar yang baik adalah yang dapat diterima oleh siswa dengan pemikiran yang lazim (common sense). Yang sangat disayangkan banyaknya teori pendidikan yang ditutupi dari berbagai jargon dan hal tersebut membuat orang tua dan siswa yang seharusnya membutuhkan informasi tersebut justru tidak memahaminya.