Saya Pindah Islam di Dubai

0
31
Saya pindah Islam di Dubai.(aboutIslam.net)

MENTARI.ONLINE – Saya mencari sesuatu, tapi tidak bisa menemukannya selama beberapa tahun terakhir. Jadi saya bingung. Saya keluar dari pergaulan bersama  teman-teman saya karena bagi teman-teman saya akan selalu “Ah ini akhir pekan, kita bisa berpesta. Mari buka botol bir pertama dan ayo segera berpakaian.

Saat saya berfikir “Kenapa?”.  Dan lalu tiba-tiba semua , dunia telah berubah.

Saya banyak sekali bepergian ke daerah lain,  dan lalu pada saat saya berumur 30 tahun saat saya berkatan “Oh, Saya harus berhenti sekarang.

“Jadi saya pulang ke rumah dan saya mencari pekerjaan dan saya tidak dapat pekerjaan. Tidak masalah, saya berfikir Ok, Saya akan berlibur  sekarang dan saya pergi ke Dubai.”

Saya datang ke Dubai, dan setelah dua minggu saya memperoleh penaawaran kerja. Ibu dan ayah sangat-sangat ketakutan. Orang tuaku, sama seperti diriku sendiri, yang sama-sama berprasangka tentang wanita barat pergi ke negeri Arab.

Tentu saja semua orang menyukai hal ini karena kami sudah pernah mendengar cerita-cerita dan ini berakhir tahun 2001. Dan Anda tahu, ada peristiwa 8/11 dan semua insiden yang terjadi, dan tentu saja semua orang berharap sesuatu yang buruk.

Saya tumbuh dengan Muslim bersama. Dimulai sebetulnya saat saudara paling tua pindah Islam. Alasan mengapa ia pindah ke Islam adalah karena dia menikat dengan wanita Muslim Turki.

Jadi menjadi saudara perempuannya dan ingin melindunginya dengan keputusannya, tentu saja kami pergi ke pusat Islam. Betul. Saya melakukannya.

Saya datang dengannya ke Islamic centers dan mengikuti beberapa sesi. Saya membaca beberapa buku dengannya bersama-sama. Tapi hal itu tik pernah meyakinkan buat aku untuk berkata”Oh, saya akan pinah ke Islam sekiarang”. Itu tidak cukup meyakinkan aku.

Lalu saya datang ke negara Islam, dan saya berpengalaman menjadi Muslim dengan jalan yang berbeda. Semua dalam waktu singkat saya pikir mereka sebenarnya sangat baik. Mereka memperlakukan Anda dengan hormat.  Saya merasa nyaman. Pada awalnya, saya bergabung dengan orang-orang Eropa lalu saya  akan bergabung dengan orang dari bangsa berbeda, karena saya ingin untuk tetap berada dalam zona nyaman.

Namun, kemudian ada saat ketika saya inign keluar dari zona nyaman ssaya karena semua tiba-tiba zona ini tidak nyaman lagi.

Enam bulan sebelum saya mengucapkan sahadat saya (ucapan keyakinan), Saya mulai membakai Abayah. Saya suka Abayah dari awal. Tapi saya selalu menghindari untuk memakainya karena saya pikir akan menghina warga lokal disini,  saya, orang kulit putih mengenakan Abayah dan semua orang akan tersinggung atau semacamnya.

Teringat mantan suamiku, pada saat itu masih suamiku, dia sangat mengganggu   karena pernikahanku begitu menakutkan. Jadi secara perlahan saya benar-benar menjaga jarak dengannya. Pulang ke rumah, kami sudah berdiskusi untuk berpisah dan saya bertanya kepadanya setiap waktu untuk pindah, dan dia selalu mengatakan:

“Tidak, kamu adalah istriku. Aku akan tinggal disini. Dan saya pergi ketika saya memutuskan. Saya laki-laki dan saya  memutuskan.” Kemudian saya bangun di pagi hari dan saya berfikir:

“Ok, jadi hari ini saya  ak menjadi seorang Muslim.”

Setelah itu saya mandi, berpakaian, dan pergi bekerja, dan saya tidak mengatakan kepada siapa-siapa. Tidak ada yang tahu. Dan saat saya selesai dengan pekerjaanku, saya mendatangi saudara perempuan Jerman yang sudah menjadi Muslim selama tujuh tahun, dan saya mengucapkan sahadat sa:

Saat saya pulang ke rumah-dan saya akan mengatakan Subhanallah dan dan itu sangat berarti buat saya hari itu- Saya datang ke rumah dan suami saya masih belum tahu bahwa saya sudah pindah ke Islam, dan saya tidak mau memberitahukannya  pada saat itu karena saya telah menanyainya setiap hari selama enam bulan terakhir.

“Kapan kamu pergi?” dan saya pikir hari ini saya akan menanyainya lagi. “Jadi kapan kamu akan keluar?” dan kemudian, Subhanallah, dia berkata:

“Hari ini,aku akan keluar. Aku sudah mengepaki barangku.”

Jadi itu adalah tanda dari Allah bahwa saya telah mengambil keputusan yang tepat.

Islam membuat saya lebih kuat. Dan tiba-tiba, saya mulai membaca lebih banyak karena menurut saya semua orang mengira saat Anda pindah agama, Anda hanya menyatakan Shahadah.

Anda membaca sedikit Quran dan hanya itu dan kemudian Anda adalah seorang Muslim dan ini bukan seperti itu. Saya hanya memikirkan semua kesulitan yang saya hadapi ini membuat saya semakin banyak membaca dan mendapatkan lebih banyak pengetahuan tentang Islam. Saat itu sangat sulit. Tiba-tiba, teman-temanku berubah menjadi musuh. Hidupku seperti terbalik.

Saat itu, salah satu teman saya benar-benar dekat dengan saya. Namanya Kate dan dia sangat mendukung saya. Saya pikir dia satu-satunya yang benar-benar mendukung keputusan saya untuk masuk Islam karena sebagian besar orang benar-benar terkejut dan takut dan memiliki kekhawatiran mereka. Saya tahu bahwa Kate selalu ada di sana dan saya bisa meneleponnya di tengah malam jika saya membutuhkannya, dan saya akan berterima kasih kepada Allah setiap hari untuk teman baik semacam itu.

Tapi Kate bukanlah seorang Muslim saat itu. Dia bingung. Saya ingat bahwa saya pergi bersamanya untuk makan siang bersama mantan suami saya, dan ini masih menempel di pikiran saya. Saya ingat saat kami duduk di dalam mobil dan hari Jumat itu adalah shalat Jumat dan kami melewati daerah Ras al-Khour, dan kami melihat semua mobil terbuka tersebut, dan tiga puluh orang berdiri dan berpegangan pada mobil yang menuju ke masjid untuk sholat Jum’at. Kami tertawa terbahak-bahak karena itu seperti konvoi.

Jadi kami tertawa sangat keras dan kami pikir sangat berbahaya melakukan hal seperti ini untuk sebuah doa.

Mengapa mereka mempertaruhkan keamanan dan keamanan mereka hanya untuk sebuah doa?

Dan tiba-tiba semua pembicaraan di mobil itu tentang agama, dan saya ingat bahwa dia berkata:

“Saya tidak religius tapi jika saya harus memilih agama apa yang akan saya ikuti, saya akan memilih Islam.”

Dan kemudian semua menertawakannya, dan kami berkata:

“Mengapa Anda memilih itu? Mereka orang-orang munafik. ”

Itu adalah topik yang besar, dan itu sebenarnya di mana Kate dan saya mulai sejak hari itu semakin melihat ke dalam agama … (Joe/aboutIslam.net)