Sektor Migas Sudah Tidak Bisa Diandalkan Jadi Penerimaan Negara

0
32
Kilang minyak di Bontang
Kilang minyak di Bontang. (Klikbontang.com)

Jakarta, MENTARI.ONLINE – Pemerintah menetapkan target penerimaan negara sebesar Rp 1.878,4 triliun pada Nota Keuangan RAPBN 2018 dengan pajak masih sebagai sumber pendapatan paling besar dengan porsi Rp 1.609,38 triliun serta pendapatan negara bukan pajak (PNBP) senilai Rp 267,87 triliun.

Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Berly Martawardaya menerangkan bila dilihat dari persentase target penerimaan negara maka pajak menyumbang lebih dari 85% penerimaan negara.

Sementara bila diperhatikan persentase PNBP yang ada sudah terus mengalami penurunan. Sektor migas sudah tidak bisa diandalkan lagi. Sementara sektor komoditas tambang juga mulai mengalami penurunan.

Jika ada orang yang mengatakan Indonesia masih kaya migas harus berfikir lagi. Kita sudah net importir,” kata Berly seperti dilansir detik.com, Jum’at (18/8/2017)

Target PNBP pada RAPBN 2018 lebih rendah hingga 14,26% dibanding target PNBP yang ditetapkan di APBN 2017 yang mencapai 14,99 %. Tahun 2015, porsi PNBP dari APBN mencapai 16,86%. Tahun 2014 mencapai 14,99%.

Penerimaan negara dari sektor migas pada RAPBN 2018 ditetapkan Rp 77,16 triliun, kemudian di APBN-P 2017 sebesar 72,2 triliun, dan APBN 2016 sebesar Rp 44,09 triliun. Rendahnya penerimaan migas tahun 2016 merupakan dampak penurunan harga migas yang terjadi sejak 2014.

Hal yang sama juga terjadi di pajak migas dimana PPh dari migas di 2018 ditarget hanya Rp 35,92 triliun, atau mengalami penurunan dari target di APBN-P 2017 sebesar Rp 41,77 triliun.

Berly menjelaskan sejak 2014 begitu nyata bisa dilihat terjadinya penurunan penerimaan pendapatan negara dari sektor Migas. Walau tahun 2016 penerimaan pendapatan dari Migas dinilai stabil karena mulai naikny harga minyak.

“(Migas) Sudah tidak bisa diandalkan.Memang mau tidak mau saat ini harus kejar pajak,” kata Berly.(jm/pjk)