Terlahir untuk Menjadi Pemenang

0
78
Diana Pramudya Wardhani. (Dok.pribadi)

Oleh: Diana Pramudya Wardhani, SE, S.Pd, MM.

Manusia merupakan ciptaan Allah yang paling sempurna dan dibentuk oleh sebuah kehidupan, pengetahuan, nilai-nilai, dan sebuah keyakinan yang melahirkan sikap. Dan 90% sikap seseorang bersifat spontan tanpa pertimbangan yang logis bahkan kita sering menilai atau memvonis seseorang dari sikapnya dan bukan manusianya.

Sudah tentu kita harus dapat berpikir jauh ke depan bahwa yang masih dalam bentuk sperma saja sudah mampu bersaing untuk menjadi pemenang, lalu kenapa kita yang sudah terlahir sebagai manusia sempurna pun terkadang masih berpikir hanya menjadi manusia yang biasa saja tanpa ada usaha maupun upaya untuk menjadi lebih baik dan lebih berguna bagi orang lain.

Sifat manusia yang satu dengan yang lain memanglah berbeda, mereka ada yang berpikir “ya saya cukup seperti ini karena sudah merasa puas dengan apa yang saya capai”, ada pula yang berpikir “kapan saya bisa menjadi sukses; kaya raya; punya rumah dan mobil mewah ?”, ada juga yang berpikiran tidak pernah puas dengan apa yang dia capai dan sudah tentu yang dimaksudkan pencapaian kepuasan yang positif. Dan mereka selalu berpikir “iya, saya harus lebih baik, lebih sukses dan lebih segalanya”.

Itu semua tidak lepas dari segala sesuatu yang harus dilakukan dengan PAKSA (Pray, Attitude, Knowledge, Skill, Action). Dan dari PAKSA inilah kita mempunyai kekuatan pikiran dan pikiran telah banyak memliki proses yang sangat kuat sedangkan untuk berpikir sederhana hanya butuh waktu sekejap akan tetapi dalam kekuatan pikiran mempunyai tujuh sumber yang berbeda yaitu orang tua, keluarga, masyarakat, sekolah, teman, media massa, dan pembentukan pemikiran diri sendiri.

Pikiran itu melahirkan sebuah mindset dan kata itu sering kita dengar bahkan sering kita ucapkan. Mindset merupakan sekumpulan pemikiran yang terjadi berkali-kali dalam berbagai tempat maupun waktu dengan diperkuat oleh keyakinan dan proyeksi sehingga akan menjadi sebuah kenyataan dan dapat dipastikan pada setiap tempat dan waktu yang sama. Dan segala sesuatu dalam kehidupan ini terbentuk karena adanya mindset.

Setiap orang selalu membuat citra diri dalam benaknya dengan meliputi seluruh aspek kehidupan dan citra diri bisa dikatakan sebagai salah satu penyebab dengan terjadinya perubahan. Selain citra diri yang mempengaruhi perubahan, penghargaan terhadap diri sendiri terkadang menjadi penyebab utama sebuah kesengsaraan atau kebahagiaan seseorang karena penghargaan diri sendiri berkaitan dengan perasaan. Perasaan kurang menghargai diri sendiri sebab utamanya adalah tidak merasakan cinta dan kasih sayang dari orang-orang disekitarnya.

Lalu apa penghargaan diri sendiri ? Perasaan seseorang terhadap dirinya, pendapat tentang dirinya serta kepuasan pada dirinya. Dan penghargaan diri sendiri  telah memiliki tiga pilar yaitu dengan menerima diri sendiri sehingga merasa ada yang tidak disukai pada dirinya baik itu secara jasmani maupun kejiwaan. Harga diri dan ini sebagian penting dalam kehidupan bermasyarakat karena harus mampu berbuat hal yang penting, maju, kemudian mewujudkan semua rencana. Mencintai diri sendiri dengan faktor utama membentuk rasa cinta pada diri sendiri merupakan pendidikan utama yang diterima anak dari orang tua.

Pikiran dan rasa percaya diri sangatlah berkaitan, dimana rasa percaya diri merupakan kekuatan yang mendorong seseorang untuk lebih maju serta berkembang dan selalu memperbaiki diri karena tanpa adanya rasa percaya diri tersebut akan selalu membuat seseorang berada dibawah bayang-bayang orang lain serta akan selalu merasa takut pada sebuah kegagalan maupun sesuatu yang tidak diketahuinya dan dengan percaya diri dapat berbuat atau melakukan sesuatu dengan penuh keyakinan.

Saya mencoba memfilosofikan manusia menjadi sebuah kupu-kupu. Tentu anda akan bertanya kenapa harus kupu-kupu, kenapa tidak kelinci yang menggemaskan atau ikan yang dapat berenang bebas ? Ya, karena kupu-kupu mempunyai filosofi yaitu sebuah metamorfosa atau perubahan yang harus diteladani dan dicontoh.

Dalam metamorfosa ini pastilah akan terjadi perubahan, baik itu pola pikir yang lebih maju dan penampilan yang eksklusif. Dengan perubahan struktur maka seekor kupu-kupu memiliki sayap yang indah bahkan tampak lebih indah dimana membentuk seseorang lebih dewasa serta lebih matang dalam menghadapi masalah. Dengan perubahan pergerakan harus memiliki mobilitas yang tinggi serta jaringna yang luas sehingga dengan perubahan fokus untuk kedepannya menjadi lebih baik, lebih sukses.

Mungkin kita pernah melihat atau bahkan sekali waktu kita membaca sebuah iklan yang bertuliskan “Think Big If You Want To The Big” dan ini memiliki arti yang sangat dalam. Dengan kalimat tersebut tentu sudah dapat membuat seseorang mempunyai rasa percaya diri dengan menguatkan keinginan serta membentuk konsentrasi pada sebuah target yang akan dicapai. Dan apabila seseorang mengalami kegagalan, maka harus belajar dar kegagalan tersebut untuk menjadi lebih baik dan berhasil. Pikiran sangatlah berbahaya sebab dapat mempengaruhi yang menjadi penyebab sebuah kegagalan dan pendukung sebuah keberhasilan karena pikiran adalah sumber percaya diri. Pikiran positif dapat membantu membangun percaya diri yang dampaknya dengan perbuatan positif membantu seseorang berani menghadapi tantangan hidup.