Terorisme dalam Perspektif Psikologi dan Sosiologi

0
1360
CFD Solo
CFD Solo.(infocarfreeday.net)

Terorisme dalam Perspektif Psikologi dan Sosiologi

Oleh: Soleh Amini Yahman*

MENTARI.ONLINE – Secara etiologi, munculnya aksi-aksi terorisme di Indonesia bisa dilihat dari berbagai sudut pandang. Tulisan berikut ini akan mencoba melihat masalah terorisme dari sudut pandang psikologi sosial dan sosiologi kultural.

Dalam konteks psikologis aksi terorisme di Indonesia secara umum dipengaruhi dua sebab utama yaitu pertama, krisis kepercayaan kepada system kehidupan social politik dan cultural. Ke dua adalah karena faktor pelemahan idiologi psikologis pelaku itu sendiri.

Krisis kepercayaan atas sistem kehidupan sosial politik

Krisis kepercayaan atas system kehidupan social politik (termasuk ekonomi, pendidikan, hukum dll) menyebabkan sebagian orang merasa frustrasi, marah, jengkel dan bahkan kecewa dengan keadaan. Kondisi yang demikian ini mengantarkan kehidupan kejiwaann yang labil. Labilitas kehidupan jiwa inilah yang melemahkan pertahanan emosi seseorang sehingga terpengaruh, terprovokasi melakukan pembencian terhadap sistem kehidupan sosial kenegaraan dan pemerintahan yang dianggap bertanggung jawab atas kehidupan sosial pada umumnya.

Perilaku kebencian (hostility) ini dapat mewujut dalam perilaku individual, kelompok maupun perilaku yang lebih terorganisasi dalam bentuk –bentuk kelompok yang mengaku atau mengatasnamakan agama, jihad, perjuangan fisabillilah, amar makruf/nahi mungkar dan lain sebagainya.

Pada tataran ini, aksi terorisme mungkin saja belum mewujud dalam bentuk kekerasan frontal semacam peledakan bom atau penghancuran yang sifatnya massif, tetapi baru sebatas aksi aksi massa seperti unjuk rasa. Target sementara gerakan teror semacam ini adalah menimbulkan rasa takut pada masyarakat, sehingga berefek pada tata kehidupan pemerintahan dan kenegaraan yang tidak stabil.

Pemerintah diposisikan sebagai pihak yang tidak bisa melindungi atau tidak bisa memberikan rasa aman kepada rakyatnya. Kondisi labil dalam tata kehidupan pemerintahan dan kenegaraan inilah yang sengaja diciptakan oleh penggerak penggerak aksi (terror) semacam ini.  Meski aksi aksi ini belum frontal, tetapi hal ini merupakan potensi laten untuk terjadinya letupan teror yang lebih dahsyat berupa gerakan destruktif (penghancuran massal), agresif dan berkembanganya pola pola perilaku yang berbasis pada kekerasan (violence).

Kebencian adalah awal terjadinya petaka teror dalam kehidupan umat. Terorisme menjadi semakin lahan subur ketika kita tidak mampu menumpulkan rasa benci, baik kebencian individu kepada individu, individu dengan kelompok, kelompok dengan kelompok.

Pelemahan idiologi psikologis

Adanya aksi terror dalam bentuk bom bunuh diri lebih disebabkan terjadinya pelemahan idiologi psikologis seseorang. Yaitu penumpulan intelektualitas tersengaja dan terstruktur yang dilakukan  oleh pihak atau orang-orang tertentu yang mempunyai  otoritas karismatik yang kuatnya luar biasa kepada seseorang atau sekelompok orang yang secara idio-psikologis tidak kuat -tidak percaya diri, konsep diri tidak jelas, kecewa atau frustrasi/patah hati, merasa tertindas dsb.

Pelemahan idio- psikologis melalui penumpulan inteketualitas tersengaja/terstruktur ini berakibat seperti cuci otak atau brainwashing pada kehidupan individu atau kelompok sehingga mudah diindoktrinasi dengan nilai nilai tertentu.

Misalnya doktrin tentang jihad, kejuangan, bela Negara, bela islam dan aneka nilai yang seakan akan berujung pada kepahlawanan dsb walau semua itu sudah dibelokkan oleh sang indoktrinatornya. Pelemahan intelektualitas inilah sumber masuknya “kesediaan” bunuh diri pada para pelaku aksi bom bunuh diri. Mungkin saja secara akademik, pelaku bom bunuh diri ini bukanlah orang yang  bodoh, bahkan merupakan lulusan terbaik dari sekolah atau lembaga pendidikan tertentu yang bonafid. Tetapi secara intektualitas dan sensitifitas afeksi mereka sangat bodoh.

Kecerdasan afeksinya berada pada level terendah. Orang orang yang memiliki kecerdasan afektif rendah pada umumnya memang sangat mudah disulut untuk melakukan aksi aksi atau tindakaan yang sebenarnya konyol dan tidak bernilai, tetapi dipersepsikan sebagai tindakan mulia dan berpahala besar. Jadi apapun bentuk aksinya dan siapapun pelakunya, selama aksi tersebut menimbulkan ketakutan kolektif yang mencekam kehidupan masyarakat, maka aksi atau tindakan tersebut dapat dikategorikan sebagai aksi Terorisme.

Mengapa melakukan teror?

Aksi teror yang belakangan ini kembali mengguncang ketentraman hidup masyarakat, bukan disebabkan oleh faktor tunggal melainkan oleh terjadinya interplay multi faktor. Artinya aksi tersebut bukan hanya disebabkan oleh satu faktor saja (misalnya fanatisme agama) melainkan oleh banyak factor , dimana diantara faktor penyebab tersebut terkait satu sama lain dan dimainkan secara bersama sama.

Dari berbagai faktor tersebut ada empat unsur pokok yang bisa dilihat menjadi faktor dominan pecahnya aksi terorisme, yaitu : (1) ketidakadilan dan ketimpangan social ekonomi yang menyebabkan terbukanya  perasaan terkoyak dan terdzalimi; (2) melemahnya konsep dasar intimitas relasi social oraganik yang menyebakan melebarnya ‘jarak sosial’ dan keruhnya ukhuwah wathaniah maupun ukhuwah sosial antarwarga masyarakat; (3) masuknya (intervensi) nilai baru dari berbagai belahan dunia sehingga merubah tata nilai social-kultural dan memporak porandakan sendi sendi kehidupan social indegenius masyarakat, (4)  tidak berfungsinya lembaga-lembaga social kemasyarakat dalam memberdayakan potensi-potensi  postif yang dipunyai masyarakat. Mereka lebih asyik berpolitik dan bercengkrama dengan kelompoknya sendiri-sendiri sehingga meminggirkan peran serta aktif masyarakat serta abai terhadap ‘urusan’ bersama. Nah akibatnya potensi positf yang semestinya menjadi modal pembangunan berbelok arah menjadi ledakan massif yang merusak tatanan pembangunan itu sendiri.

Apa yang Harus dibenahi?

  1. Sistem pengelolaan tata kehidupan social politik yang selama ini cenderung berpusat pada kekuasaan dirubah menjadi system kehidupan social ekonomi politik yang berorientasi pada keseimbangan dan keadilan masyarakat.

2.Membenahi kualitas hubungan sosial–individual untuk mendekatkan/membangun proksimitas warga masyarakat. Seperti yang sudah banyak dilakukan Pemkot Surakarta dengan membangun banyak ruang terbuka sebagai media srawung warga; Car Free Day setiap hari Minggu pagi, city walk, Sunday market, ngarsopura, galabo, merubah wajah wajah pasar tradisonal yang kumuh menjadi bersih, menutup usaha/tempat maksiat, membatasi ruang gerak peredaran miras, pagelaran dan festival budaya, atraksi seni  dll.

  1. Menyediakan fasilitas fasilitas pendidikan formal yang memadai dan merangsang tumbuhnya jiwa kreatif produktif, khususnya di kalangan anak anak muda.
  2. Tidak membiarkan benih benih radikalisme sektoral berkembang karena sikap acuh tak acuh kita terhadap kehidupan sosial kemasyarakatan di sekitar kita.

 

*Penulis adalah seorang psikolog