Twitter Temukan 50 Ribu Lebih Akun Robot Dukung Trump di Pilpres AS 2016

0
23
Korban propaganda akun Twitter robot di Pilpres AS 2016.(Twitter.com_

Amerika, MENTARI.ONLINE – Twitter menemukan 13.512 akun yang diduga sebagai akun robot (bot) yang terkait hubungan Rusia dengan Pilpres Amerika Serikat (AS) pada November 2016 yang dimenangkan Donald Trump.

Penemuan belasan ribu akun robot itu diumumkan Twitter melalui unggahan blog Twitter pada Minggu (21/1/2018). Di blog Twitter tersebut ditulis juga bahwa akun-akun robot yang ditemukan tersebut mewakili sekitar 0,016% dari total pengguna Twitter saat ini.

Menurut Twitter, praktek akun robot seperti ini menjadiu tantangan bagi paham demokrasi di mana saja. “Kami berkomitmen selalu bekerja mengatasi isu penting ini,” kata Twitter.

Sampai saat ini, total ada 50.258 akun bot yang terlibat dalam isu Pilpres AS 2016. Salah satu campur tangan komprehensif Rusia terhadap pelaksanaan Pilpres AS 2016-yang kemudian dimenangkan Donald Trump-memang melalui akun Twitter

Akun robot seperti ini, baik yang ada di Twitter maupun Facebook bekerja sistematis dengan rutin menyebarkan informasi salah serta serta propaganda seperti memuji Donald Trump dan menjelek-jelekkan Hillary Clinton sebagai lawan politiknya.

Di dalam temuannya, Twitter juga mengungkapkan, ketika masih menjadi kandidat Presiden AS, ada akun Twitter Trump yang terlihat aktif berkomunikasi dengan sejumlah akun robot.

Selain dengan akun robot, propaganda memuji Trump dan menjelekkan Hillary juga dilakukan melalui iklan politik di Facebook yang diduga didanai pihak tertentu di Pilpres untuk kepentingan kampanye Pilpres.

Setidaknya ada 3.000 iklan politik yang diunggah di Facebook diminta diserahkan pada parlemen AS. Selain Twitter, dan Facebook, Google juga diminta memberikan keterangan mengenai isu propaganda Pilpres AS 2016 sebagai bagian dari investigasi anggota parlemen serta Departemen Kehakiman AS.

Selama ini, Rusia dicurigai ikut membantu Donald Trump menjadi Presiden AS melalui aktivitas di dunia cyber. Tetapi dugaan ini selalu ditolak Trump serta otoritas Rusia. (joe/detikcom)