Uniknya Masjid Sang Cipta Rasa, Dari Khotbah Jumat Berbahasa Arab Hingga Azan Tujuh

0
29
Masjid Cipta Rasa
Masjid Cipta Rasa. (Akarasa.com)

Cirebon,MENTARI.ONLINE – Masjid Sang Cipta Rasa merupakan satu-satunya masjid peninggalan Walisongo yang masih terjaga keasliannya. Selain tradisi azan tujuh, masjid yang mampu menampung hingga lima ribu jamaah ini tetap mempertahankan ceramah salat Jumat menggunakan bahasa Arab.

Hingga saat ini, di Masjid Sang Cipta Rasa Cirebon ini ketika hari jumat, maka khatib akan menyampaikan khotbah Jumat dengan mengunakan bahasa arab. Kemudian ciri khas lainnya ialah azan tujuh yang biasa dikumandangkan di Masjid Sang Cipta Rasa.

Di masjid yang berada di dekat komplek Keraton Kasepuhan, Jalan Kasepuhan, azan tujuh ini yaitu pelaksanaan azan yang dikumandangkan oleh tujuh orang secara serempak atau bersamaan. Para muazin tersebut berasal dari lingkungan Keraton Kasepuhan dan Keraton Kanoman.

Azan tujuh merupakan tradisi turun menurun di era Nyi Mas Pakungwati. Dulunya azan tujuh selalu dikumandangkan saat memasuki waktu salat lima waktu. Namun kini azan tujuh hanya dikumandangkan pada salat Jumat.

Kepala Kaum Masjid Sang Cipta Rasa, Aaz Azhari mengatakan, kisah azan tujuh atau azan pitu ini berkumandang pertama kali saat ada kebakaran bagian atap masjid ini. Atap berbahan injuk, zaman dulu, itu terus menerus terkena sengatan matahari.”Karena saat itu sulit air untuk memadamkan, berkumandanglah azan oleh tujuh orang yang dipimpin Nyi Mas Pakungwati, dengan berikhtiar akhirnya api padam,” ucap Aaz, dilansir dari detikcom, Jumat (2/6/2017).

Seiring bergulirnya waktu, ada mitos yang menyebutkan jika azan tersebut sebagai bentuk tolak bala dari serangan racun bernama menjangan wulung. Konon, racun itu disebarkan oleh orang yang tidak suka dengan keberadaan para muazin yang bisa dengan mudah mengumpulkan umat untuk salat berjamaah.

Berdasarkan cerita berkembang di masyarakat, racun tersebut mengakibatkan seorang muazin sakit dan meninggal dunia. Muazin yang meninggal tersebut digantikan perannya oleh orang lain, namun tetap saja sang pengganti sakit dan meninggal. Lama kelamaan munculah ide yaitu muazin ditambah menjadi dua orang.

Tapi lagi-lagi dua orang tersebut sakit dan meninggal dunia. Akhirnya jumlah muazin terus ditambah hingga mencapai tujuh orang. Sewaktu azan dikumandangkan serempak oleh tujuh orang, terjadilah ledakan dan racun menjangan wulung itu sirna.

“Kalau secara logika itu adalah kejadian kebakaran atap tadi. Menjangan wulung itu adalah api yang berkobar di atap berwarna merah dan berasap. Jadi itu mitos saja,” jelas Aaz. (meu/pjk)